RADAR BOGOR - RT 06 RW 07 Kelurahan Empang, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor kembali mengikuti penilaian akhir Bogorku Bersih kategori pemukiman swadaya. Tahun ini menjadi keikutsertaan kelima wilayah tersebut dalam ajang kebersihan tingkat Kota Bogor.
Ketua RW 07 Yayat Hidayat mengatakan proses penilaian berlangsung ketat, tim juri memeriksa berbagai aspek mulai dari biofori, pengolahan sampah, kerja sama dengan warga, hingga penataan lingkungan.
“Hampir semua aspek ditanya dan dicek langsung oleh tim juri, alhamdulillah semua data bisa kami sampaikan lengkap dengan bukti fisik,” ujarnya kepada Radar Bogor.
Ia menyebut tim juri yang dipimpin oleh pejabat dari Pemkot Bogor cukup kritis, tetapi apresiatif terhadap upaya warga Empang. Dalam waktu kurang dari satu jam, seluruh data dan kegiatan sudah tersampaikan.
Warga juga sempat menampilkan produk hasil olahan sampah, seperti pupuk organik, umbul-umbul dari limbah plastik, serta aneka makanan dan minuman hasil kreasi warga.
Menurut Yayat, program Bogorku Bersih bukan sekadar lomba tahunan, kegiatan itu menjadi pemicu perubahan besar dalam perilaku warga terhadap kebersihan.
"Sekarang warga sudah terbiasa dan malu kalau buang sampah sembarangan, kami tidak hanya menata lingkungan, tapi membentuk pola pikir baru agar masyarakat peduli pada lingkungan,” ujarnya.
Untuk menjaga kedisiplinan, pengurus RW membuat aturan lingkungan, warga wajib menjaga kebersihan dan membuang sampah sesuai jadwal yang ditetapkan, siapa pun yang melanggar akan mendapat peringatan sosial.
“Bukan hukuman berat, tapi rasa malu di lingkungan itu yang paling efektif, sekarang kalau ada yang buang sampah sembarangan, pasti langsung diingatkan warga lain,” kata Yayat.
Kebiasaan baru pun tumbuh, warga kini membuang sampah pada pukul 04.00 pagi atau sebelum subuh.
Kebijakan ini muncul setelah tempat pembuangan sementara di depan wilayah mereka dibongkar. Selama ini, sekitar 80 persen sampah yang menumpuk justru berasal dari luar wilayah Empang.
“Kami tidak mau wilayah kami jadi tempat pembuangan orang lain, jadi kami ubah pola warga agar buang sampah ke mobil sampah yang parkir. Berat di awal, tapi lama-lama terbiasa,” jelasnya.
Yayat menambahkan, RW 07 juga menanamkan nilai gotong royong melalui jargon “Gorengan” yang berarti gotong-royong bareng sawuyunan. Selain itu, mereka punya moto “Bangkit, Berdaya, Berkarya.” Tiga kata ini dijadikan pengingat agar warga terus aktif, mandiri, dan saling bantu dalam menjaga kebersihan lingkungan.
Selama lima kali ikut Bogorku Bersih, RW 07 Empang selalu masuk nominasi. Meski belum menjadi juara utama, Yayat mengaku bangga karena program ini mampu membentuk budaya baru di tengah masyarakat.
“Bagi kami bukan soal piala atau juara, yang penting masyarakat berubah. Sekarang warga sudah punya kesadaran sendiri untuk menjaga kebersihan, tanpa harus disuruh,” tegasnya.
Ke depan, RW 07 bersama Kelurahan Empang menargetkan kegiatan Bogorku Bersih menjadi gerakan rutin di setiap RT. Mereka juga ingin menjadikan wilayahnya sebagai percontohan bagi kelurahan lain di Kota Bogor.
“Kami sudah buktikan selama lima tahun, bahwa perubahan itu nyata kalau dilakukan bersama. Tahun depan kami ingin lebih banyak RT yang ikut agar semangat ini merata,” tutup Yayat. (uma)
Editor : Eka Rahmawati