Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Radar Bogor Gelar OBSESI, Bahas Kasus yang Menimpa Anak hingga Pelaku dari Lingkungan Terdekat

Muhammad Ali • Jumat, 14 November 2025 | 19:25 WIB
Obrolan Serius Mencari Solusi (OBSESI) digelar Radar Bogor  di Graha Pena, Kota Bogor, Jumat, 14 November 2025.
Obrolan Serius Mencari Solusi (OBSESI) digelar Radar Bogor di Graha Pena, Kota Bogor, Jumat, 14 November 2025.

RADAR BOGOR — Maraknya kasus kekerasan terhadap anak di lingkungan keluarga maupun ruang publik, termasuk sekolah, mendorong Radar Bogor menggelar forum diskusi publik bertajuk Obrolan Serius Mencari Solusi (OBSESI).

Kegiatan yang mengangkat tema “Kekerasan Terhadap Anak dari Lingkungan Terdekat” itu berlangsung pada Jumat, 14 November 2025 di Graha Pena Radar Bogor, Taman Yasmin, Kota Bogor.

Redaktur Radar Bogor Pipin Apriani mengatakan forum ini digelar sebagai ruang dialog konstruktif sekaligus respons atas meningkatnya keprihatinan masyarakat terhadap kasus yang menimpa anak yang terjadi di lingkungan terdekat kerap tidak terdeteksi sehingga menjadi persoalan serius yang harus ditangani bersama.

“Banyaknya kasus yang menimpa anak, baik di keluarga maupun di sekolah, menjadi perbincangan sekaligus keprihatinan bersama, melalui OBSESI, kami ingin menghadirkan pandangan konstruktif dari berbagai pihak agar dapat memberi pencerahan,” ujar Pipin, Jumat, 14 November 2025.

Diskusi menghadirkan perwakilan pemerintah, praktisi, akademisi, pemerhati, hingga komunitas perempuan.

Pipin menegaskan pentingnya kolaborasi berbagai pemangku kepentingan untuk merumuskan solusi dan memperkuat upaya pencegahan peristiwa yang menimpa anak.

“Kami berharap para undangan dapat hadir dan berkontribusi dalam diskusi yang bermanfaat bagi masyarakat luas,” tambahnya.

Salah satu akademisi, Dosen Fakultas Hukum Universitas Pakuan, Mustika Mega Wijaya, menilai forum seperti OBSESI penting untuk memperkuat sinergi dalam mencegah peristiwa tersebut yang kini terjadi di berbagai tempat, termasuk lingkungan terdekat.

“Negara dan masyarakat tidak boleh diam, edukasi, pendampingan, dan penegakan hukum harus berjalan bersama,” tegasnya.

Mustika juga menyoroti penanganan kasus di sekolah yang kerap tidak tepat lantaran tenaga pendidik belum dibekali kompetensi khusus, menurutnya, guru tidak seharusnya berperan sebagai hakim.

“Penanganan harus berbasis pemulihan, bukan interogasi atau sekadar pemberian sanksi administratif,” bebernya.

Sementara itu, Ketua KPAD Kota Bogor, Dede Siti Amanah, dalam pengantar diskusi menyampaikan bahwa meningkatnya kasus tersebut, baik anak sebagai korban maupun pelaku, merupakan kondisi yang memprihatinkan.

“KPAI telah merilis data pengawasan tahun 2024 yang menunjukkan tingginya angka kekerasan dan bahkan angka kematian anak, ini sangat memiriskan,” ungkapnya.

Di sisi lain, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Bogor, Rakhmawati, mengaku terkejut dengan kompleksitas persoalan yang ia temui sejak menjabat empat bulan terakhir. Menurutnya, kasus terhadap anak di Kota Bogor hingga November 2025 tercatat mencapai 71 kasus.

“Masalah anak dan perempuan ternyata luar biasa besar,” pungkasnya. (Cr1)

Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post
Editor : Eka Rahmawati
#obsesi #radar bogor #anak