RADAR BOGOR - Wilayah Kota Bogor dalam waktu dekat bakal memiliki rumah sakit khusus untuk menangani penyakit jantung dan kanker. Fasilitas kesehatan tersebut ditargetkan rampung pada tahun 2027 mendatang.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, dr Sri Nowo Retno mengatakan rumah sakit jantung dan kanker tersebut merupakan milik perusahaan swasta dan proses pembangunannya sudah berlangsung sejak 2024 silam.
“Iya itu ground breakingnya waktu zaman Pak Bima (wali kota Bogor), saat ini masih dalam tahap proses pembangunan, setelah rampung mereka juga harus mengurus izin dulu kan,” jelas Retno kepada Radar Bogor.
RS JHC Kanker Bogor (Bogor Heart and Cancer Center) terletak di Jalan Sholeh Iskandar Kelurahan Cibadak, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor.
Dinas Kesehatan disebut Retno menyambut baik atas kehadiran fasilitas kesehatan tersebut, mengingat itu memang sudah menjadi kebutuhan mendesak.
“Jadi kalau pendekatan akses, mulai dari Puskesmas, Klinik tentu semakin banyak rumah sakit dengan banyak unggulan itukan banyak memudahkan masyarakat ke Faskes, jadi tidak usah harus jauh-jauh dirujuk,” ungkapnya.
Retno menerangkan rumah sakit tersebut disebut-sebut bakal memiliki beragam fasilitas yang lengkap untuk menangani penyakit jantung dan kanker, termasuk kemoterapi dan layanan radiasi.
“Ditambah rumah sakit informasinya akan juga menjalin kerja sama dengan BPJS, sehingga ini bakal membantu banget pengobatan warga Kota Bogor yang mengidap penyakit jantung,” beber Retno.
Berdasarkan data yang dihimpun Dinas Kesehatan Kota Bogor, pengidap jantung di Kota Bogor memang cenderung mengalami kenaikkan, ini terhitung sejak 2020 hingga 2024 lalu.
Pada tahun 2020 jumlah pengidap Jantung Koroner di Kota Bogor mencapai 1.922 dengan angka kematian 117. Angka tersebut mengalami peningkatan pada tahun 2021 dengan jumlah kasus 3051 dan kematian 99.
Data tersebut kian melonjak pada tahun 2022, jumlah pengidap jantung di Kota Bogor mencapai 3593 dengan angka kematiannya 125 orang. Pada 2023 lagi-lagi angka bertambah.
“Pengidap kanker tahun 2023 ada sebanyak 5.761 kasus dengan angka kematian 196. Kemudian pada tahun 2024 jumlahnya mencapai 7.103 dengan angka kematian yang juga melonjak mencapai 309 orang,” pungkasnya.(bay)
Editor : Eka Rahmawati