RADAR BOGOR - Trauma masa kecil akibat kekerasan fisik yang tidak diproses sejak dini dapat berdampak panjang hingga usia dewasa. Bahkan, dalam banyak kasus, trauma tersebut meledak menjadi masalah serius yang mempengaruhi hubungan, pekerjaan, hingga kesehatan mental korban.
Hal itu diungkapkan hipnoterapis sekaligus relawan keluarga, Nina Marlina dalam forum OBSESI (Obrolan Serius untuk Mencari Solusi) yang digelar Radar Bogor di Graha Pena, Jumat, 14 November 2025.
Nina menyebut banyak kasus kekerasan terhadap anak yang tidak tercatat dalam laporan resmi. Data yang masuk ke institusi hanya puncak gunung es sebab banyak yang belum terungkap.
"Yang datang ke ruang praktik justru jauh lebih banyak, dan mereka membawa trauma yang sudah disimpan puluhan tahun,” ujar Nina Marlina.
Ia mencontohkan sejumlah kasus yang ditanganinya, mulai dari anak usia sekolah yang mengalami perbuatan terlarang oleh anggota keluarga, hingga orang dewasa berusia 25 hingga 40 tahun. Banyak pasiennya yang baru menyadari perilaku dan masalah hidup yang mereka alami ternyata berkaitan dengan kekerasan di masa kecil.
“Ada yang nikah-cerai sampai enam kali, karier hancur, dan hidupnya tidak stabil," imbuhnya.
Setelah ditelusuri, ternyata mereka mengalami perbuatan tidak terpuji sejak usia TK atau SD, oleh orang-orang yang sangat dekat.
Menurutnya, sebagian besar pelaku datang dari lingkungan terdekat seperti sepupu, paman, asisten rumah tangga, hingga guru dan tokoh agama. Korban anak sering membeku (freeze) saat mengalami peristiwa tersebut sehingga tidak bsia melawan.
"Mereka tidak tahu harus melawan, tidak tahu batas tubuhnya, dan tidak punya ruang aman untuk bercerita,” tambahnya.
Dampak trauma yang tidak ditangani, lanjut Nina, dapat muncul dalam berbagai bentuk. Mulai dari gangguan makan, kecanduan, perilaku berisiko, kesulitan membangun relasi romantis, hingga gangguan kesehatan fisik.
“Semakin dini trauma terjadi, semakin besar potensi masalah kesehatan yang muncul saat dewasa,” katanya.
Nina juga menyoroti lemahnya respons lembaga seperti sekolah ketika kekerasan terjadi dan ia menemukan kasus anak SD yang mendapat perbuatan tidak terpuji dari guru, tetapi pelaku hanya dipindahkan.
“Korban tetap harus lewat depan rumah gurunya setiap berangkat sekolah, ini menambah tekanan luar biasa,” ujarnya.
Untuk mencegah dampak berkelanjutan, Nina menekankan pentingnya edukasi batas tubuh, komunikasi hangat dalam keluarga, serta ruang belajar bagi orang tua. Ia bersama komunitas relawan pengasuhan rutin turun ke sekolah, kafe, dan ruang publik untuk memberikan edukasi kepada masyarakat.
“Kami ingin orang tua paham, cinta itu bukan sekadar perhatian, tetapi juga menghargai otonomi anak dan tidak memaksa, pengasuhan yang buruk menjadi akar banyak masalah,” ungkap Nina Marlina.(uma)
Editor : Eka Rahmawati