RADAR BOGOR — Peran keluarga kembali disorot sebagai faktor utama dalam pencegahan kekerasan dan bullying pada anak.
Wakil Ketua 2 Pimpinan Daerah Aisyiyah Kota Bogor, Titien Y menilai banyak persoalan yang dialami anak—baik sebagai korban maupun pelaku—berakar dari pola komunikasi keluarga yang keliru.
Pernyataan itu disampaikan Titien dalam gelaran Obsesi (Obrolan Serius Mencari Solusi) Radar Bogor di Graha Pena, Jumat, 14 November 2025.
Ia menyebut sekitar 97 persen masalah pengasuhan berawal dari pola komunikasi keluarga yang tidak sehat, mulai dari minimnya dialog hingga cara orang tua merespons kebutuhan anak.
“Kita sering merasa komunikasi keluarga sudah baik, padahal ternyata keliru, pola komunikasi itu penentu utama bagaimana anak mengambil keputusan dan menghadapi tekanan,” ujarnya.
Titien menegaskan anak perlu dibekali keberanian sejak kecil, terlebih di tengah meningkatnya kasus bullying dan kekerasan di lingkungan sekolah maupun komunitas. Keberanian yang dimaksud bukan untuk memicu konflik, tetapi menjadi keterampilan bertahan yang harus diajarkan oleh orang tua.
“Anak harus dilatih punya keberanian, kalau hanya diam, mereka akan terus menjadi sasaran. Pengasuhan itu bukan hanya soal kasih sayang, tapi juga bagaimana orang tua mengajarkan anak menghadapi situasi sulit,” katanya.
Ia mencontohkan pengalamannya sendiri saat kecil, tanpa istilah “bullying” kala itu, ia diajarkan ayahnya untuk mengenali tanda-tanda ancaman dan berani membela diri. Pengalaman itu, menurutnya, membentuk ketangguhan mental yang berguna hingga dewasa.
“Dulu ayah saya bilang, kalau orang hanya bicara, abaikan, tapi kalau tangan mulai bergerak, kamu harus berani membela diri, keberanian itu bekal hidup,” tuturnya.
Selain soal keberanian, Titien juga menyoroti meningkatnya kerentanan anak perempuan, terutama terkait nikah dini, putus sekolah hingga potensi eksploitasi. Ia menilai lemahnya komunikasi dan minimnya pendampingan di keluarga membuat banyak anak tidak mampu melawan atau melaporkan situasi berbahaya.
mbgBaca Juga: Pemkot Bogor Uji Sampel Menu MBG Pasca Puluhan Siswa di Bogor Selatan Alami Mual dan Sakit Perut
Titien mengingatkan tanggung jawab perlindungan anak tidak bisa sepenuhnya diserahkan ke pemerintah atau sekolah. Keluarga, menurutnya, menjadi pintu paling awal dan paling kuat dalam membentuk karakter dan ketahanan anak.
“Jangan semua urusan anak diserahkan ke pemerintah, pondasi terpenting itu dibangun di rumah. Orang tualah yang setiap hari harus mengajarkan, melatih, dan mendampingi,” tegasnya.
Titien berharap kegiatan diskusi seperti Obsesi dapat mendorong lebih banyak keluarga memahami pentingnya pola komunikasi sehat dan penguatan karakter sejak dini, sehingga kasus kekerasan terhadap anak dapat dicegah sebelum terjadi.(uma)
Editor : Eka Rahmawati