RADAR BOGOR – Forum diskusi Obsesi (Obrolan Serius Mencari Solusi) yang digelar Radar Bogor di Graha Pena, Kota Bogor, Jumat, 14 November 2025 kembali menyoroti angka kekerasan terhadap anak, mulai dari bullying, penelantaran, hingga perbuatan terlarang.
Sejumlah narasumber menegaskan akar persoalan justru banyak bermula dari pengasuhan di rumah.
Koordinator Wilayah Rangkul (Relawan Keluarga Kita) Kabupaten Bogor, Rina Imaniar, mengungkapkan hampir semua kasus kekerasan anak yang ditemui relawan bermuara pada hubungan anak dengan orang tua.
“Tidak ada sekolah untuk orang tua, padahal masalah terbesar pada anak sering kali bersumber dari keluarga,” ujarnya.
Rina menjelaskan, Rangkul sebagai lembaga non-profit telah hadir di 400 kota dan kabupaten di Indonesia dengan lebih dari 4.000 relawan. Mereka membawa kurikulum pengasuhan yang dirancang untuk membantu orang tua memahami pola asuh, disiplin positif, dan kemampuan anak melindungi diri.
“Kami mengajarkan prinsip pengasuhan CINTA, orang tua tidak harus sempurna, tapi perlu terus belajar mencari cara terbaik bagi anak,” jelasnya.
Hal senada disampaikan perwakilan Rangkul Kabupaten Bogor, Karyadi Hanif Wirajaya, yang menilai masih minimnya ruang belajar bagi orang tua membuat masalah kekerasan berulang. Menurutnya, banyak orang tua ingin belajar mengasuh dengan benar, tetapi tidak tahu harus ke mana.
“Akar masalah ada di keluarga, dan solusinya pun harus dimulai dari keluarga, tapi ruang belajarnya belum tersedia secara jelas,” ujarnya.
Karyadi yang juga merupakan Ketua RT menambahkan, lingkungan sekitar seharusnya dapat menjadi jaring pengaman pertama bagi anak. Ia mencontohkan, ketika tetangga mendengar tangisan yang tidak biasa, harus ada mekanisme pengecekan yang terstruktur di tingkat RT atau RW.
“Kita butuh sistem yang membuat masyarakat sadar dan paham cara bertindak ketika melihat tanda kekerasan,” katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya pelatihan anti-bullying di sekolah, termasuk alur pelaporan yang jelas bagi siswa dan guru. Menurutnya, pencegahan kekerasan anak harus melibatkan keluarga, sekolah, lingkungan, hingga pemerintah.
“Kekuasaan pemerintah memberi dampak besar ketika digunakan untuk kebaikan, posyandu misalnya, bisa menjadi ruang edukasi soal kekerasan anak, tidak hanya kesehatan fisik,” tuturnya.
Forum Obsesi Radar Bogor dihadiri perwakilan pemerintah, akademisi, lembaga perlindungan anak, komunitas perempuan, dan pemerhati isu pengasuhan. Diskusi ini menjadi ruang bersama mencari solusi menyeluruh agar anak mendapatkan lingkungan yang aman, baik di rumah, sekolah, maupun ruang publik. (uma)
Editor : Eka Rahmawati