RADAR BOGOR – Komunitas Informasi Masyarakat (KIM) Kelurahan Loji, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, terus memperkuat promosi potensi wilayah, khususnya di sektor budaya dan religi.
Dua ikon besar di Kelurahan Loji yang masuk radar pengembangan ialah sentra industri wayang golek Enday Media dan kawasan wisata religi Kampung Santri.
Ketua KIM Kelurahan Loji, Atajudin Nur, mengatakan kedua potensi tersebut merupakan kekuatan khas Loji yang sudah dikenal luas, namun tetap membutuhkan dukungan informasi dan publikasi berkelanjutan.
“Wayang golek Pak Enday itu bukan sekadar kerajinan, tapi sudah menjadi pusat wisata budaya. Banyak turis dari dalam dan luar negeri yang datang untuk melihat proses pembuatannya, hingga menonton pertunjukan langsung,” kata Atajudin.
Enday Media yang berada di Kampung Sirnagalih, Kelurahan Loji, merupakan industri rumah tangga yang telah berdiri sejak awal 2000-an.
Di sana, pengunjung dapat melihat koleksi wayang golek, proses ukiran, pewarnaan, hingga pertunjukan kecil.
Wayang golek di tempat ini dibuat dari kayu lame, salah satu bahan terbaik untuk wayang.
Satu pasang wayang golek biasanya dikerjakan selama lima hari, dan dijual mulai Rp250 ribu per pasang.
“Produksi wayang ini rata-rata terjual sekitar 40 buah per bulan, dan banyak dikirim ke Eropa dan Asia, seperti Belanda, Inggris, China, Jepang, hingga Singapura,” ujar Atajudin.
Kegiatan produksi di Enday Media juga telah membuka lapangan kerja bagi warga setempat. Selain sebagai galeri dan tempat pembelajaran seni, Enday Media kerap dikunjungi perusahaan, rombongan wisata, hingga travel internasional sebagai bagian dari agenda wisata budaya di Bogor.
Selain seni budaya, Loji juga memiliki potensi wisata religi yang kuat. Salah satunya adalah Kampung Santri, sebutan untuk area yang dihuni banyak pesantren dan pusat pendidikan keagamaan.
Lokasi ini kerap menjadi tujuan kunjungan jamaah dari berbagai kota. “Banyak pesantren berdiri di Loji sejak lama, sehingga kawasan ini dikenal sebagai Kampung Santri. Banyak juga makam ulama yang sering diziarahi,” jelas Atajudin.
Kampung Santri telah menjadi bagian dari identitas Loji dan diakui oleh Pemerintah Kota Bogor sebagai kawasan potensial untuk wisata religi berbasis masyarakat.
Tempat ini pun telah menjadi kampung tematik yang digagas oleh Pemkot Bogor. Saat ini terdapat enam pesantren yang berdiri.
Enam pondok pesantren tersebut yakni Pondok Pesantren Pagentongan yang merupakan induk dari seluruh pondok pesantren ditempat itu.
Kemudian, Alfalakiyah, Pondok Pesantren Al Um, Pondok Pesantren Riyadutafsir, dan Pondok Pesantren Raudhatul Tolibin.
Lebih lanjut, sebagai lembaga layanan informasi masyarakat, KIM Loji berkomitmen menjadi pusat penyebaran informasi, baik untuk kegiatan budaya maupun UMKM lokal. Atajudin menyebut, banyak potensi Loji yang belum terekspos secara optimal.
“KIM hadir sebagai jembatan informasi. Kita ingin semua potensi, mulai wayang golek, Kampung Santri, hingga UMKM lain bisa dikenal luas. Ini penting untuk peningkatan ekonomi masyarakat,” tegasnya.
KIM Loji juga mendorong kolaborasi antara pelaku seni, UMKM, pesantren, pemerintah kelurahan, hingga komunitas, agar promosi wisata budaya–religi bisa berjalan lebih sistematis.
“Harapannya, Loji bisa menjadi kawasan wisata yang hidup. Budaya dapat, religius dapat, dan masyarakat juga mendapatkan manfaat ekonomi,” tutup Atajudin. (uma)
Editor : Alpin.