RADAR BOGOR — Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Bogor kini memperkenalkan layanan terbaru yaitu Akupunktur Medik.
Layanan ini salah satu opsi terapi bagi pasien dengan keluhan nyeri maupun gangguan fungsional. Layanan ini menjanjikan penyembuhan menyeluruh dan minim efek samping.
Hal itu dibahas dalam podcast RSUD Kota Bogor bersama Dokter Spesialis Akupunktur Medik, dr. Ursula Firdaus Hasan, pada 21 November lalu.
Dokter Ursula menjelaskan, Akupunktur Medik berbeda dengan akupunktur tradisional karena seluruh praktiknya berbasis ilmu kedokteran modern dan bukti ilmiah.
Akupunktur medik adalah pengobatan dengan jarum yang ditusukkan ke titik tertentu di tubuh, tetapi didasarkan pada ilmu biomedik seperti fisiologi, anatomi, dan histologi.
"Semua penatalaksanaannya evidence-based, bukan sekadar tradisi. Kami mengintegrasikan praktik jarum ini dengan ilmu kedokteran konvensional," ujar Dr. Ursula.
Menurut Dr. Ursula, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sekitar 100 jenis penyakit dapat dibantu dengan akupunktur medik, baik sebagai terapi utama maupun pendamping.
Di RSUD Kota Bogor, terapi ini paling banyak dimanfaatkan untuk penanganan nyeri kronis dan kondisi yang sulit diobati dengan medikasi oral.
Beberapa di antaranya mencakup migrain, vertigo, nyeri bahu, dan nyeri pinggang akibat saraf terjepit.
Gangguan fungsional seperti insomnia dan inkonsistensi kandung kemih, masalah pencernaan seperti IBS dan GERT, alergi, serta gejala asma juga kerap ditangani melalui akupunktur.
Bahkan, terapi ini digunakan sebagai penunjang bagi pasien kanker untuk mengurangi efek samping kemoterapi seperti mual dan muntah.
“Kalau pasien sudah tidak mempan dengan obat pereda nyeri, atau punya kondisi medis tertentu yang tidak memungkinkan konsumsi obat, akupunktur bisa menjadi alternatif karena minim efek samping pada organ,” katanya.
Dr. Ursula menjelaskan akupunktur medik aman dilakukan pada semua rentang usia, mulai dari bayi hingga lansia.
Pada bayi, tindakan biasanya dilakukan sangat minimal atau hanya berupa pijat di titik-titik akupunktur, dengan fokus pada penanganan kolik atau peningkatan nafsu makan.
Mengenai keamanan, jarum yang digunakan seluruhnya sekali pakai (disposable) untuk menghindari penularan penyakit.
Satu sesi terapi berlangsung relatif singkat, sekitar 30 menit, setelah pasien menjalani pemeriksaan awal (anamnesis).
"Efek sampingnya sangat kecil, biasanya hanya memar atau keluar darah sedikit. Risiko cedera organ sangat jarang terjadi karena dokter memahami anatomi sehingga titik penusukan aman," jelasnya.
Untuk frekuensi terapi, Dr. Ursula mencontohkan, kasus nyeri akut bisa terasa hasilnya dalam sekali sesi.
Namun, untuk penyakit kronis seperti asma, pasien mungkin memerlukan pengulangan hingga 12 kali sesi, dilakukan dua kali seminggu, agar hasilnya optimal dan permanen.
Meski memiliki banyak manfaat dan minim efek samping, Dr. Ursula menyampaikan layanan akupunktur medik di RSUD Kota Bogor saat ini belum ditanggung BPJS Kesehatan.
Pasien perlu mengeluarkan kocek pribadi untuk mendapatkan layanan ini. “Untuk saat ini akupunktur medik belum tercover BPJS, jadi masih menggunakan pembiayaan umum,” ujarnya.
Lebih jauh, bagi masyarakat yang ingin mendapatkan terapi ini dapat berkonsultasi langsung dengan dokter spesialis akupunktur medik.
RSUD Kota Bogor membuka praktek ini setiap hari Senin dan Kamis pada pukul 14.00–16.00 WIB.
Pasien diimbau datang sesuai jadwal untuk pemeriksaan anamnesis, sehingga terapi dapat disesuaikan dengan kondisi klinis masing-masing. (uma)
Editor : Alpin.