RADAR BOGOR - Perubahan iklim menjadi perhatian, setelah data menunjukkan adanya peningkatan suhu rata-rata di Kota Bogor dalam lima tahun terakhir.
Meski tidak berada di wilayah pesisir, Kota Bogor dinilai tetap berpotensi terdampak perubahan suhu ekstrem yang dapat memengaruhi aktivitas masyarakat di masa mendatang.
Dalam Peraturan Daerah (Perda) Kota Bogor Nomor 5 Tahun 2025 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2025–2029, Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim menyampaikan, kenaikan suhu ekstrem merupakan isu penting yang harus menjadi perhatian pemerintah daerah.
Ia menuturkan, perubahan pola suhu bisa berdampak pada kenyamanan, kesehatan hingga aktivitas harian masyarakat.
Kota Bogor yang dikenal sebagai Kota Hujan memiliki karakteristik iklim tropis basah dengan curah hujan tinggi, suhu sedang, dan kelembapan yang relatif stabil sepanjang tahun.
Namun, data BPS Kota Bogor menunjukkan adanya tren kenaikan suhu tahunan dari 26,0°C pada 2021 menjadi 26,7°C pada 2024.
Suhu terendah tercatat pada 2021 dengan 26,0°C, sementara suhu tertinggi terjadi pada 2024 yaitu 26,7°C.
Sementara itu, kelembapan udara memperlihatkan kecenderungan menurun dalam periode yang sama.
Tingkat kelembapan mengalami penurunan dari 84,8 persen pada 2022 menjadi 82,8 persen pada 2024.
Nilai terendah terbaca pada 2023 yaitu 81,1 persen, sementara angka tertinggi pada 2022 sebesar 84,8 persen.
Data detail suhu dan kelembapan berdasarkan catatan bulanan selama periode 2020–2024 menunjukkan variasi iklim yang terus berubah.
Seluruh data ini menjadi dasar penting bagi Pemkot Bogor dalam merancang kebijakan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim demi menjaga keberlanjutan lingkungan dan kenyamanan kota. (*)
Editor : Siti Dewi Yanti