RADAR BOGOR - Pengaruh iklim kembali menjadi perhatian utama dalam arah pembangunan Kota Bogor.
Hal tersebut tercermin dalam Peraturan Daerah (Perda) Kota Bogor Nomor 5 Tahun 2025 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2025–2029, yang menegaskan bahwa curah hujan dan jumlah hari hujan merupakan indikator strategis dalam pengelolaan lingkungan serta perencanaan pembangunan wilayah.
Pemerintah kota menilai indikator ini sangat penting mengingat posisi Kota Bogor berada di kawasan beriklim tropis basah dengan karakter curah hujan tinggi.
Dalam dokumen RPJMD tersebut, Wali Kota Bogor Dedie A Rachim menjelaskan, selama lima tahun terakhir, periode 2020–2024 menunjukkan peningkatan signifikan pada frekuensi hari hujan.
Pada tahun 2020, rata-rata jumlah hari hujan tercatat sekitar 13 hari per bulan.
Angka ini melonjak hingga mencapai titik tertinggi pada 2022, yaitu 28 hari per bulan, sebelum kembali menurun menjadi 21 hari per bulan pada 2024.
Data itu menempatkan tahun 2022 sebagai periode paling basah, sedangkan tahun 2020 menjadi yang paling rendah dalam lima tahun terakhir.
Selain itu, tren curah hujan tahunan juga menunjukkan kecenderungan meningkat.
Pada 2020, rata-rata curah hujan berada di angka 202 mm dan naik menjadi 351 mm pada 2021. Nilai tersebut terus meningkat hingga mencapai 405 mm pada 2024.
Meski terdapat variasi angka per bulan, beberapa bulan pada 2024 mencatat curah hujan ekstrem.
Pada Mei dan November 2024, misalnya, curah hujan tercatat mencapai 551 mm dan 730 mm.
Lonjakan serupa di Kota Bogor juga tampak pada Maret 2024 dengan 723 mm dan April 2024 dengan 620 mm.
Pemerintah Kota Bogor, melalui penyusunan RPJMD 2025–2029 menilai, peningkatan intensitas hujan tersebut perlu menjadi perhatian serius dalam menentukan arah pembangunan, penataan ruang, dan mitigasi risiko iklim di wilayah Kota Bogor. (*)
Editor : Siti Dewi Yanti