Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Imigrasi Bogor Kembangkan Kawasan Heritage Kedaton Shwarna Bhumi, Jejak Sejarah Sri Sultan Hamengkubuwono IX

Dede Supriadi • Jumat, 5 Desember 2025 | 16:57 WIB
Kedaton Shwarna Bhumi rencananya akan menjadi museum Imigrasi, yang dapat diakses masyarakat secara umum.
Kedaton Shwarna Bhumi rencananya akan menjadi museum Imigrasi, yang dapat diakses masyarakat secara umum.

RADAR BOGOR - Kantor Imigrasi Kelas I Non TPI Bogor tengah melakukan pengembangan besar terhadap kawasan heritage yang berada di lingkungan kantornya.

Kawasan ini memiliki nilai sejarah penting karena merupakan bekas tempat tinggal Sri Sultan Hamengkubuwono IX bersama istri terakhirnya, KRAy Norma Nindyo Kirono.

Area bersejarah tersebut dikenal dengan nama Kedaton Shwarna Bhumi, sebuah kompleks yang dibangun pada awal 1980-an dan kini menjadi bagian dari aset budaya Kota Bogor.

Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Non TPI Bogor, Ritus Ramadhana, menjelaskan pengembangan kawasan heritage ini bertujuan menjadikannya ruang edukasi dan wisata budaya yang dapat diakses masyarakat secara gratis.

Konsep Pengembangan: Menjadi Kawasan Heritage Terbuka untuk Publik

Ritus menjelaskan bahwa kawasan yang kini berada di bawah pengelolaan Imigrasi Bogor tersebut memiliki sejumlah bangunan dengan nilai sejarah tinggi, mulai dari pendopo, rumah tinggal, hingga bunker yang diduga menjadi bagian dari struktur bangunan pada masa Sultan HB IX bermukim di Bogor.

“Kami Kantor Imigrasi Bogor akan membuat konsep yang namanya heritage, sehingga kami kembangkan lagi budaya Hamengkubuwono IX yang ada di sini. Tanahnya sebenarnya ada pendopo dan juga cagar budaya, karena ada juga bunker, jadi kita perbaiki sehingga masyarakat bisa menikmati cagar budaya yang ada di Kantor Imigrasi Bogor,” kata Ritus.

Menurutnya, kawasan ini bukan sekadar area perkantoran, tetapi memiliki sisi historis yang sarat nilai budaya. Selain pendopo dan bangunan rumah yang pernah ditempati Sultan dan KRAy Norma, terdapat pula benda-benda yang masih dipertahankan sebagai bagian dari atmosfer alami kawasan tersebut.

Ritus mengungkapkan bahwa di area tersebut sebenarnya terdapat tiga bunker lama, tetapi dua di antaranya kini telah tertutup dan tak lagi tampak.

“Ternyata tadi ada 3 bunker, dua sudah kita tutup karena sudah lama, saat saya datang ke sini, bunker itu sudah tidak ada. Pas saya pindah ke sini, ada sisa satu bunker yang kita perbaiki,” jelasnya.

Bunker yang tersisa itu kini sedang diperbaiki untuk dipertahankan sebagai bagian dari wisata heritage.

Salah satu elemen penting dalam pengembangan kawasan heritage ini merupakan rencana alih fungsi mushola yang saat ini berada di area Kedaton Shwarna Bhumi. Musala tersebut nantinya akan dikembangkan menjadi Museum Imigrasi, sementara di sebelahnya akan dibangun masjid baru.

“Ada yang akan diproklamirkan untuk wisata heritage. Tadi juga ada yang sekarang jadi musala, nanti akan jadi museum. Rencananya nanti akan kita buat museum Imigrasi. Di sebelahnya mushola itu akan kita buatkan masjid,” ujar Ritus.

Bangunan utama yang dahulu menjadi tempat tinggal Sultan HB IX tetap dipertahankan bentuk luarnya, sementara bagian dalamnya akan diperbaiki untuk menjadi ruang pamer sejarah keimigrasian.

Salah satu hal yang ditekankan Imigrasi Bogor ialah keterbukaan akses bagi publik. Ritus memastikan bahwa seluruh area heritage dapat dinikmati masyarakat tanpa dipungut biaya.

“Semua yang ada di Kantor Imigrasi Bogor ini masyarakat bisa mengaksesnya dengan gratis, tidak ada pembayaran apapun. Jadi setelah masyarakat menikmati pelayanan di kantor Imigrasi Bogor, mereka bisa menikmati cagar budaya di sini, melihat rusa, ke masjid Hamengkubuwono, semuanya gratis,” tegasnya.

Pengembangan kawasan heritage ini ditargetkan selesai pada Februari tahun depan, termasuk perbaikan bunker dan pembangunan masjid baru.

“Ya, semua selesai, masjid dan bunker. Tapi bangunan utama Hamengkubuwono itu sudah digunakan sejak lama (akan dibuat seperti aslinya),” jelas Ritus.

Pendopo Kedaton Shwarna Bhumi, yang kini difungsikan sebagai masjid, menjadi salah satu ikon utama kawasan ini. Pendopo tersebut merupakan saksi bisu kehidupan Sri Sultan HB IX bersama KRAy Norma Nindyo Kirono, yang dinikahinya pada 1976. Bangunan ini dibangun sekitar tahun 1982 sebagai tempat peristirahatan Sultan untuk sang istri.

Dirancang arsitek Adhie Moersid, pendopo menggabungkan unsur budaya Jawa dengan sentuhan modern yang pada masanya dianggap maju. Nama “Kedaton Shwarna Bhumi” merujuk pada Pulau Sumatera, asal KRAy Norma, dan mencerminkan makna personal dalam hubungan keduanya.

Setelah Sri Sultan HB IX wafat, bangunan tersebut kemudian dijual oleh pihak keluarga dan akhirnya menjadi bagian dari komplek Kantor Imigrasi Bogor.

Di bagian belakang kantor, jejak kehidupan itu masih tampak melalui keberadaan pendopo, bangunan bergaya Yogyakarta, serta bunker yang menambah kedalaman nilai sejarah kawasan tersebut.

Dengan pengembangan kawasan heritage ini, Kantor Imigrasi Bogor tidak hanya menjadi penyedia layanan publik, tetapi juga pusat edukasi budaya dan sejarah. Menghadirkan ruang publik yang informatif, estetis, dan historis, Imigrasi Bogor berharap bisa menghadirkan pengalaman baru bagi masyarakat yang berkunjung.

Pengembangan Kawasan Kedaton Shwarna Bhumi diharapkan dapat menjadi destinasi budaya baru di Kota Bogor—sekaligus menjaga dan merawat jejak sejarah Sri Sultan Hamengkubuwono IX di luar Yogyakarta.(ded)

Editor : Eka Rahmawati
#imigrasi #bogor #Kedaton Shwarna Bhumi