RADAR BOGOR - IPB University bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersinergi menyiapkan Program Pembangunan 1000 Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) 2026.
Sebagai tahap awal dari program, IPB dan KKP menggelar kegiatan Pelepasan Peserta Surveyor KNMP ke 279 desa di 17 provinsi se-Indonesia di Auditorium Fakultas Ekonomi dan Manajemen Kampus IPB Dramaga, pada Minggu, 7 Desember 2025.
Program KNMP ini merupakan salah satu Program Presiden Prabowo Subianto di Sektor Perikanan dan Kelautan guna meningkatkan kesejahteraan nelayan dan penguatan ekonomi maritim.
Targetnya membangun 1.000 desa nelayan pada 2026, menciptakan lapangan kerja, serta meningkatkan pendapatan nelayan dua kali lipat.
Ketua Tim Penyelenggara Penyiapan Pelaksanaan Pembangunan Program Kampung Nelayan Merah Putih, Handian Purwawangsa, menyampaikan bahwa survei lapangan merupakan tahapan paling krusial dalam program pembangunan nasional KNMP.
Survei lapangan memiliki skala operasi yang masif, dirancang untuk menjangkau 17 provinsi, 97 kabupaten, dan 279 desa di seluruh Indonesia.
“Kami berhasil menyeleksi dan mempersiapkan 560 surveyor terbaik dari total 4.274 pendaftar, yang berasal dari 72 perguruan tinggi yang tersebar di seluruh Indonesia," kata Handian yang saat ini menjabat selaku Direktur Pengembangan Masyarakat Agromaritim (DPMA) IPB University.
Handian menyampaikan, hal tersebut menunjukkan tingginya animo dan semangat masyarakat dalam membangun wilayah pesisir Indonesia.
Seluruh tim lapangan telah melalui coaching intensif selama dua hari sebagai bekal sebelum penugasan.
Tim surveyor akan dimobilisasi ke lokasi survei sesuai jadwal yang telah ditetapkan, dengan keberangkatan secara bertahap dimulai pada tanggal 10 Desember 2025.
Upaya kolektif tersebut diharapkan menghasilkan data berkualitas tinggi yang akan menjadi panduan strategis dalam mewujudkan cita-cita peningkatan kemandirian dan kesejahteraan masyarakat nelayan di Indonesia.
Baca Juga: Hadir di Promo 12.12 Blibli, Ini Dia Tips dan Rekomendasi Mesin Cuci LG!
“Dengan sinergi dan dedikasi yang tinggi, kami berkomitmen penuh untuk menyukseskan pelaksanaan survei ini sebagai landasan data yang kuat bagi perumusan kebijakan Program Kampung Nelayan Merah Putih di masa depan,” tutur Handian.
Mereka tidak hanya melakukan dialog dan sosialisasi mengenai KNMP, tetapi juga mendengarkan aspirasi masyarakat serta mulai menyusun model bisnis untuk desa tersebut.
Program ini bukan hanya membangun sarana-prasarana fisik, tetapi juga membangun manusianya agar sarana produktif bisa teroperasionalisasi dengan baik.
“Tahap awal ini dilakukan bersama IPB University sebagai model. Ke depan, program akan melibatkan universitas-universitas lain untuk proses identifikasi, pendampingan, hingga pemberdayaan,” ucapnya.
Sementara itu, Wakil Rektor IV Bidang Konektivitas Global, Kerja Sama dan Alumni, IPB University Prof. Iskandar Zulkarnaen Siregar mengatakan, program ini saling melengkapi antara KKP dan IPB.
Dengan pendalaman data, kebijakan kementerian akan lebih efektif. IPB sendiri memiliki pengalaman mengembangkan model bisnis melalui program One Village, One CEO, yang mencakup One Product, One Innovation, dan One Market, termasuk ke pasar internasional.
“Program One Village, One CEO sampai hari ini sudah menjangkau lebih dari seribu desa. Saat ini sudah banyak desa yang mampu melakukan ekspor ke luar negeri, dengan sekitar 16 desa yang telah berhasil menembus pasar ekspor,” beber dia.
Pola One Village, One CEO sendiri memiliki tiga tahapan utama. Pertama, One Village, One Product (OVOP).
Dalam konteks Kampung Nelayan, desa harus memiliki produk unggulan yang spesifik, mulai dari produk perikanan hingga kemungkinan pengembangan ekowisata.
Dari identifikasi ini, akan terlihat inovasi dan intervensi apa yang diperlukan. Tahap kedua adalah intervensi yang sesuai untuk tiap kampung.
Setelah itu barulah masuk ke tahap pendampingan pada tahun berikutnya. Pada tahap akhir, desa akan dihubungkan dengan ekosistem bisnis.
Selain pengelompokan klaster, proses ini harus menyambungkan rantai usaha dari hulu sampai hilir. Pasarnya bisa lokal, tetapi ketika ekosistemnya terbentuk, kesejahteraan nelayan dipastikan akan meningkat.(ded)
Editor : Alpin.