RADAR BOGOR - Wali Kota Bogor, Dedie Rachim turut menanggapi soal status siaga darurat bencana yang dikeluarkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Dedie menerangkan, status siaga darurat bencana itu sebagai pengingat untuk warga agar selalu waspada. Sebab, bencana bisa datang kapan saja dan sasarannya tidak pandang bulu.
“Makanya ada mitigasi, kemudian penetapan status yang nantinya paling tidak bisa menggugah masyarakat, mau tidak mau kita harus mengantisipasi,” jelas Dedie soal status siaga darurat bencana.
Contoh mitigasi bencana yang dimaksud seperti mengetahui jalur evakuasi, menghubungi nomor darurat, serta menyiapkan tas darurat.
“Iya tas darurat juga penting. Termasuk memisahkan dokumen-dokumen penting,” kata Dedie pada awak media, Senin 8 Desember 2025.
Status darurat siaga bencana yang dilayangkan Pemprov Jabar dipandang Dedie sudah cukup. Dan ini berlaku untuk semua wilayah yang ada dibawahnya.
“Saya pikir sudah cukup edaran tersebut menjadi acuan untuk kita sosialisasikan kepada masyarakat,” terang Dedie.
Seperti diketahui, Kota Bogor senidiri diintai tiga bencana yang bisa terjadi kapan saja. Data ini didapat dari hasil Kajian Resiko Bencana (KRB) yang dilakukan BPBD.
Tiga potensi bencana yang dimaksud ialah longsor, banjir dan cuaca ektream. Titik lokasinya tersebar di berbagai kecamatan yang ada di Kota Bogor.
Kalak BPBD Kota Bogor, Dimas Tiko mengatakan wilayah Kecamatan Tanah Sareal memiliki kerentanan paling tinggi terhadap resiko banjir.
“Sementara untuk cuaca ekstream dan tanah longsor ini hampir merata di enam kecamatan yang ada di Kota Bogor,” jelas Dimas pada Radar Bogor.
Hasil KRB itu juga diperkuat dengan catatan bencana sepanjang tahun 2025. Hasilnya, menunjukan bahwa tanah longsor berada di urutan pertama dengan 264 kejadian.
Disusul bangunan roboh dengan 211 kasus, pohon tumbang 233 kejadian, angin kencang 80 kejadian, serta 48 kasus kebakaran. Dampak yang dirasakan cukup besar.
“Data kami menunjukan total ada 418 rumah terdampak, terdiri dari 194 rusak ringan, 148 rusak sedang, dan 76 rusak berat. Ini hasil rekap dari Januari hingga November,” jelasnya.
Dimas menyebut kondisi ini tidak bisa dipandang remeh. Pemkot Bogor telah menyiapkan berbagai macam langkah mitigasi bencana.
Setiap daerah memiliki karakteristik risiko berbeda sehingga pendekatan mitigasinya tidak bisa disamakan.
Namun peristiwa di Sumatera dan Aceh tetap menjadi pelajaran agar kewaspadaan tidak kendor.
Monitoring cuaca menjadi langkah mitigasi utama yang dilakukan. Dari November hingga Maret 2026 Kota Bogor diprediksi akan dilanda hujan dengan intensitas tinggi.
Dimas menegaskan kondisi tersebut menuntut warga lebih disiplin menjaga lingkungan terutama terkait saluran air dan potensi hambatan aliran.
“Kami mengimbau warga untuk rutin melakukan pengecekan kebersihan saluran dan menjaga lingkungan agar tetap aman,” pungkasnya. (bay)
Editor : Yosep Awaludin