RADAR BOGOR – Sejumlah penggiat pendidikan berkumpul dalam diskusi bertajuk Afterwork Talk yang digelar di Groovy Space, Kota Bogor, Senin 15 Desember 2025.
Kegiatan ini membahas perbedaan sistem pendidikan antara Indonesia dan Italia dengan menghadirkan pelajar pertukaran asal Italia, Giulia Franzoni.
Diskusi tersebut diikuti oleh pelajar, mahasiswa, penggiat pendidikan, hingga praktisi pendidikan alternatif.
Peserta mendapatkan perspektif langsung mengenai perbedaan sistem pendidikan di kedua negara melalui pengalaman Giulia selama menempuh pendidikan di Italia dan Indonesia.
Dalam diskusi, sejumlah aspek pendidikan dibahas, mulai dari perbedaan jenjang pendidikan, metode pengajaran guru, sistem ujian, hingga tantangan belajar yang dihadapi pelajar asing di Indonesia.
Sesi tanya jawab berlangsung interaktif dan mendapat respons antusias dari peserta.
Giulia Franzoni, siswa pertukaran pelajar program AFS, menceritakan pengalamannya bersekolah di Ivan Piana Highschool, Lovere, Italia, sebelum melanjutkan tahun pertukarannya di SMAN 1 Bogor.
Menurutnya, sistem pendidikan di Italia dan Indonesia memiliki karakter yang sangat berbeda, baik dari sisi pendekatan pembelajaran maupun hubungan antara guru dan siswa.
“Saya datang untuk mempresentasikan sistem pendidikan dan perbedaan antara sistem di sini dan di Italia, karena memang sangat berbeda. Saya berharap pengalaman ini bisa membantu pengembangan sistem pendidikan,” ujar Giulia.
Ia juga menyoroti tantangan belajar yang ia temui selama menjalani proses pendidikan di Indonesia.
Adaptasi terhadap sistem evaluasi dan metode pembelajaran, kata dia, menjadi pengalaman baru yang memperkaya perspektifnya sebagai pelajar.
Selain soal pendidikan, Giulia mengaku terkesan dengan kehidupan sosial dan budaya di Indonesia.
Ia menyebut keramahan masyarakat, kekayaan budaya, serta kuliner sebagai pengalaman berharga selama menjalani program pertukaran pelajar di Bogor.
“Saya sangat menyukai orang Indonesia, makanannya, dan budayanya. Hubungan antar manusia sangat dekat dan tempatnya juga sangat indah,” tuturnya.
Sementara itu, Anggun Pesona, orang tua asuh Giulia di Indonesia, mengatakan program pertukaran pelajar memberikan pembelajaran dua arah, baik bagi pelajar maupun keluarga penerima.
Awalnya, ia mengikuti program tersebut agar anaknya dapat mengenal budaya lain, namun justru menjadi proses belajar bagi seluruh keluarga.
“Sistem pendidikan sangat berpengaruh terhadap tingkat kematangan remaja. Di usia muda, Giulia sudah mampu mengambil keputusan dan memiliki pandangan yang kuat,” ujarnya.
Perempuan yang juga berprofesi sebagai dosen ini, pertukaran pelajar memberikan perspektif baru tentang pentingnya menyediakan banyak pilihan pendidikan alternatif serta pengembangan minat siswa.
Ia juga mengaku belajar dari Giulia mengenai cara mempertahankan dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis, terutama di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan.
Co-founder Ekotifa, Afro Indayana, mengatakan diskusi ini digelar sebagai bagian dari upaya mendorong pendidikan alternatif, khususnya yang berkaitan dengan pariwisata berkelanjutan.
Ia menyebutkan kegiatan ini melibatkan berbagai pihak agar menjadi ruang pemantik diskusi untuk kemajuan pendidikan.
“Kami mengundang penggiat pendidikan, termasuk homeschooling, pihak pemerintah, dan komunitas. Tujuannya agar diskusi ini bisa menjadi pemantik peningkatan kualitas pendidikan dan intelektualitas,” kata Afro.
Ia menambahkan, pemilihan narasumber dari Italia tidak terlepas dari keberadaan program pertukaran pelajar AFS di Bogor.
Giulia saat ini mengikuti program AFS Chapter Bogor dan bersekolah di Kota Bogor selama masa pertukarannya.
Diskusi Afterwork Talk ini diharapkan dapat menjadi ruang berbagi gagasan dan refleksi bagi para pemangku kepentingan pendidikan di Kota Bogor dalam melihat peluang pengembangan sistem pendidikan yang lebih adaptif dan inklusif.(uma)
Editor : Alpin.