Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Uyut Dalem Batutulis Karuhun Urang Bogor, Bukan Keturunan Yaman

Siti Dewi Yanti • Selasa, 16 Desember 2025 | 16:19 WIB

Suasana makam Uyut Dalem Batutulis, hasil fotografi Pemerintah Kolonial Belanda, awal 1800-an.
Suasana makam Uyut Dalem Batutulis, hasil fotografi Pemerintah Kolonial Belanda, awal 1800-an.

RADAR BOGOR - Menyikapi pemberitaan yang ditayangkan Harian Radar Bogor edisi Kamis (6/3/2025), dengan judul “Mengenal Sosok Mbah Dalem, Ulama yang Makamnya Ramai Dikunjungi Peziarah di Bogor,” kami merasa perlu menyampaikan klarifikasi.

Perlu meluruskan, agar tidak terjadi misleading information alias informasi yang kurang akurat dan tidak valid.

Mbah --Kami menyebutnya Uyut-- Dalem Batutulis yang memiliki nama asli Syaikh Abdurrahman adalah karuhun sepuh Sunda, penyebar Islam paling sepuh di bumi Pakuan Pajajaran.

Baca Juga: Dishub Kabupaten Bogor Kerahkan 320 Personel, Siap Amankan Arus Lalu Lintas Nataru di Enam Titik

Bukan Bernama Habib Abu Bakar Al-Idrus, pendatang asal Arab Yaman.

Lokasi makam beliau terletak di jantung Kabuyutan Batutulis.

Disebut Kabuyutan karena ini merupakan kawasan yang dikeramatkan masyarakat Sunda secara turun temurun, bekas areal inti keraton Kerajaan Pakuan Pajajaran, singgasana raja Sunda paling tersohor, Sribaduga Maharaja Ratu Haji Pakuan Prabu Siliwangi.

Baca Juga: Pencairan Bansos Masih Berlanjut Pertengahan Desember 2025, PKH, BPNT, dan PIP Terpantau Cair

“Dari perspektif antropologi, secara turun temurun urang Bogor dan para peziarah menyebut beliau dengan istilah Mbah, Eyang atau Uyut.

Secara budaya sangat jelas beliau Sunda pituin, pribumi asli Bogor atau sudah turun temurun berasimilasi dengan penduduk pribumi Pakuan, sehingga dipanggilnya Mbah, Eyang atau Uyut.”

Tradisi berbeda disematkan pada sosok habib alias etnis Arab bermarga Baklawi keturunan Yaman.

Baca Juga: Penting, Batas Akhir Pencairan Bansos 2025, Kasus KKS Baru tapi Saldo Exclude dan Risiko Drop KPM Usia Produktif

Makam klan Baklawi keturunan Yaman selalu disebut Habib.

Maka kurang berdasar, kalau Mbah Dalem Batutulis diklaim sebagai ulama keturunan Yaman.

Dari sisi Sejarah dan dokumentasi filologi, Mbah Dalem Batutulis juga sangat tidak tepat diklaim sebagai habib.

Baca Juga: Gaspol Pencarian Bansos Jelang Akhir Tahun 2025: PKH dan BPNT Tahap 4 Terus Diproses Bank Penyalur Secara Bertahap

Para habib keturunan Yaman diperkirakan baru datang ke Bogor akhir tahun 1800-an alias akhir abad 19 M. Sekitar 150 tahun silam.

Sedangkan makam Mbah Dalem Batutulis dipekirakan berusia lebih dri 450 tahun.

Diperkirakan hidup segaris dengan era Kerajaan Sunda Pakuan Pajajaran di mana kawasan Kabuyutan Batutulis menjadi dayeuh, ibu kota pemerintahan pada 1482-1579.

Baca Juga: Aturan Baru Penerima Bansos 2026: Batas Maksimal 5 Tahun PKH dan 4 Kategori KPM yang Tidak akan Cair Lagi

Secara tradisional, makam beliau dibangun dengan model khas berundak, disusun undak-undakan, sesuai tradisi kearifan lokal Sunda.

Sejak ribuan tahun urang Sunda memiliki konsep bangunan punden berundak sebagai wahana kontemplasi dan mendekatkan diri dengan tuhan pemilik jagat raya.

Awal tahun 1800-an Pemerintah Hindia Belanda sudah merilis dokumentasi fotografi kawasan Kabuyutan Batutulis.

Baca Juga: Bansos Terbaru Desember 2025 Resmi Cair, BPNT Tahap 4 dan PIP Masuk Rekening, Simak Ketentuan Penting Agar Tetap Dapat Bantuan 2026

Saat itu makam Mbah Dalem sudah ada dan terfoto.

Pihak Belanda sendiri melalui misi ekspedisi VOC sejak akhir 1600-an alias 100 tahun setelah runtagnya Kerajaan Pakuan Pajajaran sudah menjelajahi kawasan Batutulis yang dipandu tokoh pembabat alas eks Dayeuh Pakuan dan Bupati pertama Bogor, Raden Tanujiwa.

Mulai tahun 1744 Gubernur Hindia Belanda memilih tinggal di Bogor dengan membangun Istana di Kebun Raya.

“Juru kunci paling sepuh yang pertama kali menjaga makam ini saja tidak mengalami era hidup Eyang Dalem Batutulis, karena makamnya sudah ada ratusan tahun sebelumnya. Ratusan tahun hilang atau tidak ada yang merawat, kemudian ditemukan oleh juru kunci paling sepuh. Terus dirawat secara turun temurun hingga sekarang.”

Keluarga kami, seuweu siwi Uyut Raden Santri Wijaya Kusumah, yang tinggal di Desa Bojong, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, secara turun temurun sejak akhir tahun 1800-an dan sudah 7 generasi aktif menziarahi makam Mbah Dalem Batutulis maupun Prasasti Batutulis peninggalan Eyang Surawisesa tahun 1533 M.

Baca Juga: Status Pencairan Bansos PKH Sudah SI, Penyaluran Bantuan Tambahan Rp400 Ribu Khusus untuk KKS Baru Dipercepat

“Tidak ada secuil pun cerita yang menyebutkan beliau sebagai ulama keturunan Yaman.”

“Kakek sepuh kami Uyut Raden Santri Wijaya Kusumah memiliki hubungan darah dan silsilah genetika dengan Uyut Dalem Batutulis maupun Raja Sunda Pakuan Pajajaran Bogor, Eyang Prabu Siliwangi.”

Mbah Dalem Batutulis dengan generasi sekarang terbentang 15 generasi.

Kalau satu generasi diasumsikan 30 tahun seperti dalam rumus genetika, usia makam Mbah Dalem Batutulis diperkirakan sekitar 450 tahun.

Baca Juga: Rakerda Jadi Momentum Penguatan UMKM Kader, PKS Kota Bogor Salurkan Gerobak UMKM Gratis

Mengenai istilah Dalem Batutulis yang disematkan pada sosok tokoh yang dikeramatkan tersebut, karena beliau tinggal di areal inti karaton Pakuan Pajajaran Batutulis, yang berpusat di sekitar Gang Amil, Prasasti Batutulis, dan Istana Batutilis hari ini.

Dalem berarti keluarga Dalem Karaton Pakuan atau makamnya berdiri di areal dalem Dayeuh Pakuan, Kabuyutan Batutulis.

Terkait dengan perannya selama hidup sebagai penyebar Islam, hal tersebut merupakan kelumrahan dari seluruh kerajaan di tanah Sunda yang sangat ramah dan toleran terhadap para pendatang, dengan memberikan kebebasan kepada suku dan agama apapun untuk hidup berkembang, bahkan tinggal di lingkungan Istana.

Prabu Siliwangi dikenal sebagai pemimpin yang adil, jujur, bijaksana dan penuh welas asih. Ulama atau pendakwah mendapatkan kebebasan melakukan aktivitas dakwah.

Pada zaman Kerajaan Pakuan Pajajaran sudah banyak ponggawa atau pejabat teras istana memeluk Islam.

Baca Juga: Jelang Akhir Tahun 2025 Segera Saldo KKS, Ada Bonus Tambahan PKH dan BPNT, Benarkah?

Eyang Rangga Gading, yang makamnya sekitar 2 KM dari Batutulis ke arah selatan di Kelurahan Ranggamekar, dalam dokumen laporan yang dirilis Pemerintah Belanda disebut sebagai seorang wali (ulama Islam) Kerajaan Pakuan Pajajaran.

“Bahkan Prabu Siliwangi pun selain memiliki salah satu permaisuri santriwati dari Pesantren Syaikh Quro --pesantren tertua Nusantara yang dibangun seorang wali besar Sunda di Karawang awal tahun 1400-an-- dalam sejumlah versi disebutkan sebagai orang yang memeluk agama Islam.

Setidaknya dalam babad Cirebon, babad Karawang dan sebagian babad Bogor, beliau diyakini sebagai pemeluk Islam.” (*)

Ahmad Fahir

-Ketua Majelis Dzikir Sholawat wal Manaqib Yayasan At-Tawassuth, Desa Bojong, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor

-Penggagas dan Ketua Panitia Pelaksana Napak Tilas Prabu Siliwangi Long March dari Eks Keraton Pajajarann di Batutulis ke Situs Keramat Bukit Badigul Rancamaya, Bogor Selatan, Kota Bogor, 7 Mei 2017

Baca Juga: Dugaan Produksi Kosmetik Ilegal Bermerek Palsu di Tamansari Bogor Terbongkar, Empat Tersangka Diseret ke Meja Hijau

-Ketua Umum Baraya Kujang Pajajaran (BKP), komunitas pemegang kujang pusaka Pajajaran, Bogor, tahun 2017-2018

-Tim Pendiri dan Ketua Bidang Infokom Dewan Adat Sunda Langgeng Wisesa, 2017-sekarang

-Wakil Ketua DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Bogor periode 2007-2010

Editor : Siti Dewi Yanti
#Dalem #bogor #yaman #Batutulis