Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Kota Bogor Ingin Jadi Green City, Wali Kota Dedie Rachim Sebut PSEL dan IPAL Jadi Prioritas Tahun Depan

Fikri Rahmat Utama • Selasa, 23 Desember 2025 | 11:08 WIB
Wali Kota Bogor Dedie A Rachim memaparkan sejumlah capaian dan pekerjaan yang sedang berjalan selama sepuluh bulan masa pemerintahannya.
Wali Kota Bogor Dedie A Rachim memaparkan sejumlah capaian dan pekerjaan yang sedang berjalan selama sepuluh bulan masa pemerintahannya.

RADAR BOGOR – Pemkot Bogor menegaskan komitmennya untuk mendorong Kota Bogor jadi green city.

Kebijakan soal green city itu disampaikan Wali Kota Bogor Dedie Rachim dalam forum Refleksi Akhir Tahun yang digelar PWI Kota Bogor, di Mako PWI Tanah Sareal, Senin 22 Desember 2025.

Menurutnya, green city akan diwujudkan melalui penguatan kebijakan lingkungan. Mulai dari pengolahan sampah menjadi energi (PSEL), pembangunan instalasi pengolahan air limbah (IPAL), hingga program penghijauan masif.

Dedie menyebut, dalam 10 bulan terakhir, Pemkot Bogor fokus pada langkah-langkah strategis yang berdampak langsung bagi lingkungan dan kualitas hidup warga, meski tidak selalu diekspos secara berlebihan.

“Bogor punya modalitas luar biasa untuk menjadi green city. Kita punya Kebun Raya Bogor seluas 86 hektare dan hutan penelitian CIFOR 57 hektare. Tidak banyak kota di Indonesia yang memiliki modal ekologis sebesar ini,” kata Dedie.

Salah satu fokus utama adalah penanganan sampah. Saat ini, Kota Bogor menghasilkan lebih dari 1.000 ton sampah per hari, ditambah hampir 2.000 ton dari wilayah Kabupaten Bogor.

Untuk menjawab persoalan tersebut, Pemkot menyiapkan proyek PSEL dengan teknologi ramah lingkungan.

“Kita punya lahan hampir 40 hektare yang bisa dimanfaatkan untuk PSEL di Galuga, dan PSEL Kota Bogor di sekitar Tanah Sareal. Ini teknologi mutakhir, bebas polusi, dan menyelesaikan persoalan sampah,” ujarnya.

Nilai proyek PSEL disebut mencapai hampir Rp2 triliun dengan masa pengerjaan sekitar dua tahun.

Dedie menyebut, Bogor menjadi salah satu daerah yang mendapat perhatian serius pemerintah pusat dalam pengelolaan sampah.

“Dari 98 kota di Indonesia, Bogor Alhamdulillah berada di peringkat teratas untuk kesiapan program strategis pengelolaan sampah,” jelasnya.

Selain PSEL, Pemkot Bogor juga menyiapkan pembangunan IPAL skala kota di kawasan Kayumanis.

Proyek senilai hampir Rp1,5 triliun tersebut akan mulai dikerjakan pada 2026 setelah mendapat dukungan pemerintah pusat.

“Kalau dibiayai APBD, jelas tidak cukup. Alhamdulillah, setelah bertemu Menteri Bappenas, status proyek ini bergeser dari Blue Book ke Green Book,” kata Dedie.

Ia menambahkan, isu perubahan iklim kini sudah dirasakan langsung masyarakat. Salah satu indikasinya adalah terganggunya musim panen buah akibat kemarau basah.

“Ini bukan lagi climate change, tapi climate disaster. Rambutan yang biasanya berbuah September sampai Desember, tahun ini tidak muncul di Bogor,” ungkapnya.

Karena itu, Pemkot mendorong program penghijauan berkelanjutan. Seluruh aparatur ASN Kota Bogor diwajibkan menanam pohon selama masa pengabdian, sejalan dengan program Jabar Hejo dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Tak hanya ASN, penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis juga akan dilibatkan dalam gerakan penanaman pohon.

“Ada sekitar 320 ribu penerima manfaat sampai 2027. Kita balas kebaikan itu dengan menanam minimal satu pohon,” ucap Dedie.

Sementara itu, Ketua DPRD Kota Bogor Adityawarman Adil menegaskan dukungan penuh legislatif terhadap program strategis Pemkot termasuk soal green city. Ia menyebut, DPRD menjalankan fungsi penganggaran dan regulasi secara sinergis.

“Semua program Wali Kota dan Wakil Wali Kota kami dukung 100 persen, selama itu untuk kepentingan masyarakat dan sejalan dengan visi Kota Bogor,” kata Adityawarman. (uma)

Editor : Yosep Awaludin
#kota bogor #green city #Dedie Rachim