RADAR BOGOR - Kota Bogor merupakan kota yang tumbuh dalam keberagaman agama, suku, ras, budaya dan menjadi kekuatan sosial yang terus dijaga serta dirawat bersama oleh seluruh elemen masyarakat.
Nilai saling menghargai dan hidup berdampingan secara harmonis itu pun menjadi fondasi utama terciptanya kerukunan umat beragama di Kota Bogor.
Hal tersebut tercermin pada hasil Survei Indeks Kerukunan Umat Beragama (IKUB) Tahun 2025 yang dilakukan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya (FISIB) Universitas Pakuan (Unpak).
Dari survei tersebut, tingkat toleransi antarumat beragama di Kota Bogor berada pada kategori sangat tinggi.
Peneliti FISIB Universitas Pakuan, Toto Sugiarto, menyampaikan bahwa penelitian tersebut bertujuan mengukur tingkat kerukunan umat beragama di Kota Bogor secara komprehensif lewat tiga dimensi utama yakni toleransi, kesetaraan, dan kerja sama antarumat beragama.
Toto menjelaskan dari basis penelitian yang mencakup toleransi antarumat beragama, kesetaraan, dan kerja sama hasilnya dimensi toleransi memperoleh nilai 84,4 dengan kategori sangat tinggi, kesetaraan 81,4 juga sangat tinggi.
"Sementara kerja sama berada pada angka 77,4 dengan kategori tinggi,” ujar Toto dalam pemaparan hasil survei di Balai Kota Bogor, Senin, 22 Desember 2025 lalu.
Capaian tersebut kata Toto menunjukkan peningkatan signifikan dibanding dengan 2023, tetapi tantangan yang masih perlu diperkuat ke depan yakni dimensi kerja sama antarumat beragama.
“Ini perlu diapresiasi, toleransi di Kota Bogor sangat tinggi, namun kerja sama lintas umat beragama masih memiliki ruang untuk terus ditingkatkan,” kata Toto.
Sementara itu, anggota tim peneliti dan survei FISIB Universitas Pakuan, Roni Jayawinangun, mengungkapkan makna dari masing-masing dimensi yang diukur dalam IKUB.
Menurut Roni, toleransi dimaknai sebagai sikap menerima serta menghargai perbedaan keyakinan, nilai, budaya, dan pandangan dengan kesediaan hidup berdampingan secara damai.
Roni menjelaskan kesetaraan adalah kondisi setiap individu memiliki nilai dan hak yang sama tanpa memandang latar belakang, dengan memastikan akses dan peluang yang adil serta menentang segala bentuk diskriminasi.
sedangkan kerja sama, lanjut Roni, merupakan bentuk nyata interaksi sosial antarumat beragama melalui sikap saling bahu-membahu, empati, dan simpati.
“Kerja sama dapat diwujudkan melalui berbagai kegiatan atau event di tingkat kota yang melibatkan seluruh unsur masyarakat, saat ini nilainya sudah berada pada kategori tinggi, dan pada tahun 2026 diharapkan dapat meningkat menjadi 81,4,” paparnya.
Roni juga menekankan hasil survei memperlihatkan keterlibatan generasi muda yang memiliki skor lebih tinggi dibandingkan kelompok usia lainnya, sehingga menjadi modal penting bagi keberlanjutan kerukunan umat beragama pada masa yang akan datang.
Sementara itu pada kesempatan terpisah, Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim, menyampaikan apresiasi atas hasil survei tersebut. Ia menegaskan tingginya nilai IKUB mencerminkan keberhasilan masyarakat Kota Bogor menjaga harmoni di tengah keberagaman.
“Dari hasil survei Indeks Kerukunan Umat Beragama Tahun 2025, Kota Bogor menduduki peringkat sangat tinggi sebagai kota yang menjunjung tinggi toleransi,” ujar Dedie Rachim ketika menghadiri Perayaan Natal Keuskupan Sufragan Bogor 2025 di Pusat Pastoral Keuskupan Bogor, Jumat, 26 Desember 2025 malam.
Dedie menyebut kondisi kerukunan tersebut menciptakan suasana kota yang aman dan kondusif, sehingga seluruh lapisan masyarakat dapat beraktivitas dengan nyaman.
“Anak-anak bisa bersekolah, masyarakat bisa berkarya dan berkarier, ibu-ibu bisa berbelanja, serta keluarga dapat mencari nafkah dengan tenang inilah situasi yang diimpikan setiap daerah,” ungkapnya.
Keberagaman yang terjaga dengan baik menurut Dedie merupakan modal utama pembangunan dan menjadi landasan penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kota Bogor.
“Kota Bogor dengan latar belakang agama, suku, ras, dan keturunan yang beragam terus saling menghargai dan menjunjung tinggi toleransi, ini adalah kekuatan kita bersama untuk membangun Kota Bogor yang maju dan harmonis,” tegas Dedie Rachim.
Editor : Eka Rahmawati