RADAR BOGOR – Di balik aliran solokan yang kini mulai bersih di kawasan Cikaret, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, ada sosok Dede Sukria (37) yang setia berjibaku dengan sampah.
Tanpa pamrih, ia menekuni aktivitas itu sejak 2015, semata-mata diniatkan sebagai ibadah.
Perjalanan Dede sebagai relawan sampah bermula dari keresahan sederhana melihat selokan yang kerap tersumbat. Setiap kali hujan turun dan air meluap, hatinya tergerak untuk turun tangan sendiri.
Awalnya, Dede hanya bergerak di sepanjang Jalur Cikaret. Namun seiring waktu, langkahnya perlahan meluas ke sejumlah wilayah lain di Kota Bogor.
“Sejak awal saya fokuskan niatnya untuk ibadah saja, membersihkan sampah bukan hanya kerja fisik tapi ini adalah bentuk pengabdian,” ujar Dede.
Ia mengaku resah melihat sungai yang seharusnya jernih justru dipenuhi sampah. Selain mengganggu pemandangan, kondisi itu juga dikhawatirkan memicu banjir dan menjadi sarang penyakit.
“Saya resah melihat solokan sering banjir. Apalagi kalau melihat sungai yang seharusnya airnya jernih, tapi karena ada sampah jadi tidak nyaman dipandang mata,” terangnya.
Dalam kesehariannya, Dede bisa bekerja sejak pukul 08.00 WIB hingga menjelang maghrib. Jika sampah belum terangkut tuntas, ia memilih bertahan meski tubuh sudah lelah.
Peralatan kerjanya pun sederhana dan dibuat sendiri. Sebuah saringan rakitan selalu dibawanya untuk menjaring sampah dari solokan sebelum dikumpulkan ke dalam karung.
Saringan itu tidak pernah ditinggal di lokasi. Dede memilih membawanya pulang demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Pada masa awal, volume sampah yang ia kumpulkan bisa mencapai 20 hingga 30 karung per hari.
Kini, jumlah itu berkurang menjadi sekitar 10 sampai 12 karung, tanda kondisi lingkungan mulai membaik.
Sampah-sampah tersebut tidak pernah ia jual. Dede memilih berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) agar segera diangkut setelah dikemas rapi di pinggir jalan.
“Kalau sampah sudah rapi di dalam karung dan ditumpuk di pinggir jalan, saya kontak mereka agar segera diangkut supaya tidak hanyut lagi kalau hujan turun,” ucap Dede
Aktivitas bersih-bersih itu murni dilakukan secara sukarela. Untuk menghidupi keluarga, Dede sehari-hari berjualan kue tradisional seperti lupis, klepon, candil, hingga putu mayang.
Ia biasanya turun ke solokan saat libur berjualan atau di sela waktu luang. Di usia 37 tahun, Dede menjalani peran sebagai kepala keluarga sekaligus relawan lingkungan dengan penuh keikhlasan.
Perjuangan sunyi itu akhirnya mendapat perhatian. Dedikasi Dede Sukria sebagai relawan sampah diganjar apresiasi langsung oleh Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, sebagai bentuk penghargaan atas kontribusinya menjaga lingkungan kota.(bay)
Editor : Alpin.