Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Relokasi PKL Alun-Alun Kota Bogor Makin Mendesak, Trotoar Licin Akibat Minyak Jualan

Fikri Rahmat Utama • Sabtu, 3 Januari 2026 | 19:21 WIB
Wakil Wali Kota Bogor Jenal Mutaqin dan petugas Damkar membersihkan pendestrian Alun-alun Kota Bogor.
Wakil Wali Kota Bogor Jenal Mutaqin dan petugas Damkar membersihkan pendestrian Alun-alun Kota Bogor.

RADAR BOGOR – Relokasi pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Alun-Alun Kota Bogor dinilai kian mendesak. Selain mengganggu fungsi ruang publik, aktivitas berjualan disebut menjadi salah satu penyebab trotoar licin, akibat sisa minyak dari aktivitas PKL.

Wakil Wali Kota Bogor, Jenal Mutaqin, mengatakan Pemerintah Kota Bogor telah menganggarkan penataan dan relokasi PKL pada tahun 2026. Salah satu lokasi yang disiapkan adalah Jalan Nyi Raja Permas yang berada di belakang Alun-Alun Kota Bogor.

“Rencana di tahun 2026 ini kita sudah menganggarkan pengadaan untuk lokasi Nyi Raja Permas, tempat ini akan dimanfaatkan untuk relokasi seluruh pedagang yang saat ini berada di Jalan Dewi Sartika atau Alun-Alun Kapten Muslihat,” kata Jenal saat diwawancarai, Sabtu 3 Januari 2026.

Berdasarkan data sementara, terdapat sekitar 320 PKL yang akan dikurasi. Namun, jumlah tersebut masih terus diperbarui karena ditemukan adanya pedagang yang memiliki lebih dari satu lapak.

“Melalui Dinas UMKM dan dinas terkait, kita terus melakukan pembaruan data agar nanti yang mengisi zona PKL di Nyi Raja Permas benar-benar tepat sasaran,” ujarnya.

Jenal menuturkan, persoalan trotoar licin telah menjadi perhatian, terlebih di musim hujan. Meski spesifikasi trotoar dan keramik di kawasan Alun-Alun telah dirancang ramah bagi pejalan kaki dan penyandang disabilitas, kondisi licin kerap terjadi.

“Selain faktor hujan, kelicinan juga disebabkan oleh minyak dari hasil jualan PKL, ini sangat disayangkan karena setiap kali dibersihkan, area tersebut kembali kotor,” ungkapnya.

Untuk menjaga ketertiban, Pemkot Bogor terus melakukan edukasi kepada para pedagang. Kegiatan bersih-bersih rutin dilaksanakan setiap Jumat, sementara Satpol PP dan Park Ranger dikerahkan setiap hari untuk melakukan pengawasan.

“Jangan sampai fasilitas yang dibangun dengan uang rakyat justru rusak oleh masyarakat sendiri, ketegasan petugas harus dibarengi dengan kesadaran masyarakat untuk mencintai Kota Bogor,” kata Jenal.

Pemkot Bogor menargetkan proses lelang sarana PKL dan relokasi dapat tuntas dalam tahun ini. Dengan demikian, fungsi trotoar dapat kembali dirasakan oleh masyarakat, khususnya pejalan kaki dan pesepeda.

“Jalan Nyi Raja Permas ini jalurnya cukup panjang dan luas, minimal bisa menampung sekitar 500 PKL, khususnya sektor kuliner. Masyarakat yang keluar dari stasiun kereta api bisa diarahkan ke zona PKL di belakang alun-alun,” jelasnya.

Selain PKL, Pemkot Bogor juga mengkaji rencana relokasi shelter ojek online. Jenal mengaku telah berkomunikasi dengan Wali Kota Bogor untuk membuka peluang renegosiasi nota kesepahaman (MoU) terkait titik shelter.

“Harapannya, shelter Gojek dan Grab bisa dipindahkan agar Jalan Dewi Sartika tidak lagi menjadi pemicu parkir liar dan berjualan liar, penumpang juga bisa langsung menuju zona PKL dan menikmati kuliner,” ujarnya.

Terkait mekanisme bagi para pedagang, Pemkot Bogor akan menerapkan sistem retribusi kebersihan dan zona PKL. Namun, pembahasan teknis akan dilakukan lebih lanjut.(uma)

Editor : Eka Rahmawati
#kota bogor #Alun alun #pkl