Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Makanan Kukusan Jadi Tren, Apa Sih Manfaatnya? Begini Penjelasan Pakar IPB University

Dede Supriadi • Jumat, 9 Januari 2026 | 17:12 WIB
Dosen Program Studi Supervisor Jaminan Mutu Pangan Sekolah Vokasi IPB University, Ai Imas Faidoh Fatimah saat memberikan penjelasan.
Dosen Program Studi Supervisor Jaminan Mutu Pangan Sekolah Vokasi IPB University, Ai Imas Faidoh Fatimah saat memberikan penjelasan.

RADAR BOGOR - Fenomena makanan kukusan dan rebusan yang kian digemari masyarakat dinilai membawa dampak positif dari sudut pandang gizi.

Tren kuliner ini mencerminkan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap konsumsi real food sebagai bagian dari pola hidup sehat.

Dosen Program Studi Supervisor Jaminan Mutu Pangan Sekolah Vokasi IPB University, Ai Imas Faidoh Fatimah, menjelaskan bahwa beragam pangan yang disajikan dengan cara dikukus memiliki kandungan gizi yang baik bagi kesehatan tubuh.

“Pangan kukusan seperti jagung, pisang, ubi jalar, singkong, dan labu merupakan sumber karbohidrat kompleks, serat pangan, serta berbagai vitamin yang berperan dalam mendukung pemenuhan gizi,” ujar Ai Imas.

Menurutnya, tren makanan kukusan merupakan perkembangan positif karena sejalan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap konsumsi pangan alami dan minim proses.

Ia menambahkan, metode pengolahan dengan cara dikukus atau direbus cenderung lebih sehat dibandingkan menggoreng.

“Pengukusan meminimalkan penggunaan minyak, sehingga pangan menjadi lebih rendah lemak jenuh dan kalori,” katanya.

Selain itu, suhu pengukusan yang relatif lebih rendah juga membantu mempertahankan kandungan nutrisi, terutama vitamin dan mineral.

“Bahan pangan yang dikukus tidak kontak langsung dengan air, sehingga kehilangan vitamin dan mineral bisa diminimalkan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Ai Imas memaparkan sejumlah bahan pangan yang sangat diuntungkan jika diolah dengan teknik kukus.

Umbi-umbian seperti ubi jalar, singkong, talas, dan kentang berfungsi sebagai sumber karbohidrat.

Sementara sayuran hijau dan berwarna cerah, seperti brokoli, wortel, dan labu kuning, kaya akan vitamin serta antioksidan.

Kacang-kacangan seperti kacang tanah dan edamame juga cocok dikukus karena menjadi sumber protein nabati dan mineral.

Jagung manis mengandung karbohidrat, vitamin, dan mineral, sedangkan telur merupakan sumber protein hewani yang baik jika diolah dengan metode kukus.

Sebagian besar bahan pangan tersebut merupakan pangan lokal Indonesia. Selain mendukung pemenuhan gizi, pengolahannya juga berkontribusi pada penguatan konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal.

Terkait frekuensi konsumsi, Ai Imas menegaskan bahwa makanan kukusan aman dan bahkan dianjurkan untuk dikonsumsi setiap hari sebagai bagian dari pola makan harian.

Meski demikian, prinsip variasi dan keseimbangan zat gizi tetap perlu diperhatikan.

“Makanan kukusan sebaiknya dikombinasikan dengan sumber protein hewani maupun nabati agar tidak hanya memberikan rasa kenyang, tetapi juga mendukung pemeliharaan kesehatan tubuh secara optimal,” pungkasnya. (ded)

Editor : Alpin.
#dampak positif #ipb university #Makanan Kukusan