Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Tetap Demo di Balai Kota Bogor Meski Diguyur Hujan, Sopir Angkot : Anak Istri Kami Mau Makan Apa

Muhamad Rifki Fauzan • Kamis, 22 Januari 2026 | 11:25 WIB
Aksi demo para sopir angkot di Balai Kota Bogor.
Aksi demo para sopir angkot di Balai Kota Bogor.

RADAR BOGOR - Aksi demo sopir angkot di Balai Kota Bogor diwarnai guyuran hujan, Kamis 22 Januari 2026. Namun, kondisi itu tidak menghentikan langkahnya untuk menyuarakan aspirasi.

Para sopir angkot membawa sejumlah tuntutan lewat banner dan poster. Tulisan tersebut dipasang di bagian depan kendaraannya.

Setibanya di Balai Kkota Bogor para sopir angkot langsung dipersilahkan masuk. Mereka tidak dihadang dengan pagar berwarna hitam. Namun petugas keamanan tetap mengawasi.

Tubuh salah satu masa aksi bahkan ada yang di cat berwarna hijau. Ia berdiri di atas mobil komando sembari berorasi menyuarakan segala tuntutannya.

Salah satu Koordinator Aksi, Ganda mengatakan sedikitnya ada sembilan tuntutan yang dibawa. Namun semuanya bermuara pada tiga point.

Ganda meminta agar Pemkot Bogor meninjau ulang kebijakan penghapusan angkot tua. Baginya tidak semua kendaraan dalam keadaan tidak layak.

“Tergantung yang punya. Kita kepinginin tau sebenarnya gimna si yang ga layak tuh kaya gimana,” jelas Ganda saat ditemui di tengah aksi demonstrasi.

Penghapusan angkot tua dipandang Ganda berdampak buruk terhadap perekonomiannya. Sebab, angkot menjadi mata pencarian satu-satunya.

“Kalau dihapus anak istri kami mau makan apa. Kalau memang mau dihapus kasih kami pekerjaan yang layak juga jangan digantung seperti ini,” terang Ganda.

Rekomendasi jadi sopir Biskita Transpakuan dipandang Ganda tidak efektif. Sebab jumlah armadanya, tidak sebanding dengan jumlah sopir yang terkena dampak penghapusan.

“Biskita cuma itungan jari. Sedangkan kami sopir angkot semua ada ratusan orang sampai ribuan. Jadi tidak mungkin semuanya bisa tertampung,” ujar Ganda pada awak media.

Tidak hanya itu, Ganda juga meminta agar pemerintah mengaktifkan kembali program reduksi dan peremajaan. Langkah itu dipandangnya bisa memberi nafas lega.

“Reduksi minta dibuka kembali dan peremajaan dibuka kemudian batasan umur sampai tahun 2030. Saya berharap aspirasi ini bisa didengar,” pungkasnya. (bay)

Editor : Yosep Awaludin
#balai kota bogor #demo #sopir angkot