RADAR BOGOR – Angka stunting di Kota Bogor terus menunjukkan tren penurunan dari tahun ke tahun. Memasuki awal 2026, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor kembali menjalankan program intervensi stunting di wilayah Bogor Selatan dengan menggandeng Rumah Zakat bersama Gain Indonesia.
Kick off Bantuan Intervensi Stunting Pemkot Bogor bersama Gain Indonesia dan Rumah Zakat digelar di Kantor Kecamatan Bogor Selatan, Selasa, 3 Februari 2026. Sebanyak 71 anak sasaran akan menerima bantuan pangan berupa beras dan telur setiap bulan selama enam bulan berturut-turut.
Wakil Wali Kota Bogor, Jenal Mutaqin mengungkapkan berdasarkan data terkini, jumlah kasus stunting di Kota Bogor tercatat sebanyak 1.491 kasus. Angka tersebut mengalami penurunan dibandingkan awal 2025 lalu yang masih berada di angka 1.588 kasus.
Untuk terus menekan angka stunting, Pemkot Bogor menurutnya konsisten menjalankan berbagai program percepatan dan pencegahan. Selain menggandeng pihak swasta dan lembaga sosial, Pemkot juga memiliki program donasi sukarela dari Aparatur Sipil Negara (ASN) dengan nominal bantuan bervariasi mulai dari Rp50 ribu hingga Rp250 ribu per bulan.
“Kita istiqomah ikhtiar memerangi stunting di Kota Bogor,” ujar Jenal yang juga menjabat Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting Kota Bogor.
Selain kontribusi sukarela para ASN, menurut Jenal para donatur dan perusahaan, baik lokal maupun internasional, juga terus memberikan bantuan melalui program CSR yang fokus pada pemenuhan gizi dan pemulihan anak-anak stunting di bawah tiga tahun.
Ia menambahkan, Rumah Zakat memiliki rekam jejak yang baik dalam penanganan stunting di Kota Bogor. Sebelumnya, sebanyak 18 anak di wilayah Bogor Utara berhasil keluar dari status stunting melalui program serupa dan capaian tersebut kini dilanjutkan di Bogor Selatan.
Dalam program ini, Rumah Zakat bersama Gain Indonesia akan memberikan bantuan berupa 5 kilogram beras dan 4 kilogram telur per anak setiap bulan. Bantuan tersebut akan disalurkan selama enam bulan berturut-turut dengan harapan anak-anak penerima dapat keluar dari status stunting.
“Total anak stunting di Bogor Selatan ada 203, sebanyak 71 anak diintervensi melalui program ini, sementara sisanya, 132 anak, dibantu melalui donasi sukarela ASN,” paparnya.
Jenal memastikan proses penyaluran bantuan dilakukan secara transparan dan tepat sasaran. Pemkot Bogor memanfaatkan aplikasi BesTi untuk memantau distribusi bantuan dan perkembangan anak penerima manfaat.
Melalui aplikasi tersebut, para donatur dapat memantau hasil bantuannya secara berkala. Aplikasi ini memuat dokumentasi berupa foto-foto penyaluran yang diunggah oleh pendamping keluarga serta tim percepatan penurunan stunting di masing-masing kecamatan.
“Foto-foto itu akan diunggah oleh pendamping keluarga dan tim percepatan stunting di setiap kecamatan,” katanya.
Mantan anggota DPRD Kota Bogor ini menegaskan komitmennya untuk terus bekerja keras menekan angka stunting. Dengan konsistensi program dan kolaborasi lintas pihak, ia optimistis Kota Bogor dapat mencapai target zero stunting.
Ia pun mengajak pihak-pihak lain yang ingin berkontribusi dalam penanganan stunting untuk berkoordinasi dengan Bapperida Kota Bogor.
“Insyaallah saya optimistis angka stunting bisa terus berkurang, bahkan zero stunting di Kota Bogor,” pungkasnya. (uma)
Editor : Eka Rahmawati