RADAR BOGOR – Perjuangan melawan kanker bukan perkara mudah. Rasa sakit, ketakutan, hingga bayang-bayang kematian kerap menghantui para pejuangnya.
Namun kisah Mustika Mega Wijaya membuktikan, harapan bisa tetap hidup dari kanker bahkan saat segalanya terasa mustahil.
Dosen Fakultas Hukum Unpak Bogor itu merupakan penyintas kanker yang sempat divonis stadium 4.
Di momen peringatan Hari Kanker Sedunia, Rabu 4 Februari 2026, Mustika membagikan perjalanan hidupnya yang penuh air mata, doa, dan keyakinan akan mukjizat Tuhan.
Mustika mengisahkan, awal mula dirinya didiagnosis kanker terjadi pada Maret 2024. Saat itu, dokter menyatakan penyakitnya berada di stadium 2B dan menyarankan operasi segera. Operasi pertama pun dijalani tanpa menunda waktu.
Namun delapan bulan setelah operasi, kondisinya justru memburuk. Mustika mengalami penurunan kesadaran dan harus dirawat intensif di ruang ICU selama empat hari dalam keadaan koma. Di fase tersebut, kanker yang dideritanya berkembang menjadi stadium 4.
“Dokter sudah angkat tangan. Saya bahkan dikeluarkan dari ICU. Keluarga, kerabat, mahasiswa, alumni datang menjenguk untuk terakhir kalinya,” ujar Mustika saat diwawancarai Radar Bogor.
Di tengah kondisi kritis itu, sebuah peristiwa yang ia sebut sebagai mukjizat pun terjadi. Mustika perlahan tersadar dari koma dan kondisi kesehatannya mulai menunjukkan perbaikan. Keajaiban tersebut membuat dokter heran melihat perkembangan kesehatannya.
Setelah sadar, Mustika kembali menjalani rangkaian pengobatan berat. Ia menjalani dua kali operasi lanjutan, kemudian kemoterapi sebanyak enam kali. Pada awal kemoterapi, Mustika bahkan masih harus belajar berjalan menggunakan kursi roda.
“Dari kursi roda, pelan-pelan bisa jalan sendiri. Kemo dilakukan setiap tiga minggu. Bahkan sampai akhirnya kemo ketiga, saya sudah bisa menyetir sendiri sampai kemo keenam,” tuturnya.
Perjuangan Mustika tidak hanya soal bertahan hidup, tetapi juga tetap produktif di tengah keterbatasan fisik.
Selama menjalani pengobatan kanker, ia tetap menyelesaikan studi doktoral (S3) yang sedang ditempuhnya.
Tak hanya itu, Mustika juga menyalurkan refleksi dan pengalamannya melalui karya sastra dengan menulis sebuah novel.
“Selama saya sakit sampai sekarang, saya sudah selesai S3. Meski sakit, saya tetap berkarya dan menulis novel,” ungkapnya.
Setelah kemoterapi keenam, Mustika kembali menjalani operasi mastektomi. Hasil pemeriksaan patologi anatomi pascaoperasi menjadi titik balik paling menentukan dalam hidupnya.
“Setelah operasi mastektomi, hasil lab patologi menyatakan saya bersih dari kanker,” ucapnya.
Kabar bahagia itu resmi diterima Mustika pada 20 November 2025. Bahkan, dugaan awal adanya metastasis ke paru-paru pun dinyatakan tidak terbukti. Seluruh hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi yang bersih.
Mustika mengaku, kekuatan terbesarnya datang dari kedua anaknya. Sebagai orang tua tunggal dengan dua anak yang masih kecil, ia merasa harus bertahan apa pun kondisinya. Saat koma, ia masih mengingat suara anaknya yang seolah memanggilnya untuk bangun.
“Saya dengar suara anak saya bilang, ‘Mama bangun dong, kan mama mau lihat aku jadi dokter bedah’,” kenangnya.
Selain anak-anaknya, dukungan sahabat dan lingkungan sekitar juga menjadi penyemangat. Bahkan candaan tentang kewajiban sidang akademik turut membangkitkan semangat hidupnya.
Kini, meski telah dinyatakan bersih dari kanker, Mustika masih rutin menjalani kontrol kesehatan setiap tiga bulan sekali dan mengonsumsi obat setiap hari untuk mencegah kanker kembali.
Mengingat usianya masih produktif, ia harus menjalani menopause dini sebagai bagian dari proses pengobatan.
Pengalaman nyaris kehilangan nyawa itu mengubah cara pandangnya terhadap hidup. Mustika mengaku kini jauh lebih bersyukur dan memahami pentingnya menyayangi diri sendiri serta orang-orang di sekitarnya. “Sekarang ingin berbuat baik saja terus,” katanya.
Di Hari Kanker Sedunia, Mustika juga menyampaikan pesan bagi para pejuang kanker lainnya agar tidak menyerah dan terus melangkah.
“Terus berjalan, terus semangat, dan gantungkan harapan kepada Allah. Sesungguhnya kita adalah orang-orang pilihan Tuhan yang kuat,” pungkasnya. (uma)
Editor : Yosep Awaludin