RADAR BOGOR – Jam’iyah Ahlul Thoriqoh Al-Mu’tabarah Ahlussunnah wal Jamaah atau Jatma Aswaja merupakan organisasi keagamaan yang mewadahi para pengamal thoriqoh mu’tabarah dengan basis ajaran Ahlussunnah wal Jamaah.
Organisasi ini hadir sebagai ruang dakwah spiritual yang menekankan penguatan batin, akhlak, dan kemandirian umat.
Ketua Panitia Pelantikan PC Jatma Aswaja Kota Bogor, Turmudi Hudri, menjelaskan Jatma Aswaja berfokus mengajak masyarakat menempuh jalan spiritual melalui thoriqoh yang memiliki sanad keilmuan jelas dan bersambung hingga Rasulullah SAW.
“Jatma Aswaja mengajak umat untuk melangkah lebih dalam secara spiritual melalui jalur thoriqoh mu’tabarah. Namun, meski fokus pada spiritualitas, kami juga bergerak di bidang sosial, ekonomi, budaya, hukum, dan kemasyarakatan,” ujar Turmudi saat Podcast Bicara Bogor oleh Radar Bogor, Jumat 6 Februari 2026.
Ia menjelaskan thoriqoh yang dinaungi Jatma Aswaja adalah thoriqoh mu’tabarah, yakni yang memiliki silsilah atau sanad muttasil dan diakui secara internasional.
Organisasi ini juga berada di bawah bimbingan para tokoh sufi dunia, dengan Maulana Habib Luthfi bin Yahya sebagai Rais Am sekaligus pendiri Jatma Aswaja, yang juga menjabat Ketua Forum Sufi Sedunia.
Selain dakwah spiritual, Jatma Aswaja menanamkan prinsip kemandirian mutlak dalam berorganisasi.
Turmudi menyebut, anggota dididik untuk mandiri secara ekonomi dan energi tanpa bergantung pada proposal atau bantuan pihak luar.
“Semua kegiatan kami diupayakan swadaya. Bahkan untuk pelantikan pengurus PC Jatma Aswaja Kota Bogor, pembiayaannya murni dari anggota dan hasilnya melebihi target yang direncanakan,” katanya.
Dalam berdakwah, Jatma Aswaja mengedepankan pendekatan yang merangkul, bukan memukul.
Organisasi ini terbuka bagi berbagai kalangan, mulai dari pejabat pemerintah, pengusaha, akademisi, hingga seniman.
“Prinsip dakwah kami adalah mencintai, bukan membenci. Merangkul, bukan memukul. Perbedaan pendapat itu wajar selama disampaikan dengan dalil, tidak merasa paling benar, dan tidak memaksakan kehendak,” ujar Turmudi.
Ia juga menyinggung pandangan Jatma Aswaja terhadap seni, budaya, dan musik.
Menurutnya, dalam perspektif sufisme, seni adalah alat yang nilainya bergantung pada siapa dan bagaimana ia digunakan.
“Kalau di tangan orang arif, seni bisa menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah. Dakwah Walisongo di Indonesia juga berhasil karena menggunakan pendekatan budaya tanpa melanggar syariat,” jelasnya.
Meski tergolong organisasi baru yang berdiri pada April 2025 di Pekalongan, Jatma Aswaja Kota Bogor telah melakukan berbagai kegiatan sosial.
Di antaranya bakti lintas agama dengan membersihkan rumah ibadah dari enam agama, pembinaan UMKM, donor darah, serta cek kesehatan gratis.
“Bagi kami, harmoni sosial dan budaya adalah bagian dari dakwah. Selama berada di ranah sosial-budaya, tidak perlu semua hal dipertentangkan secara agama,” pungkas Turmudi. (uma)
Editor : Alpin.