RADAR BOGOR – Menjelang Imlek 2026, produksi barongsai dan liong di Kota Bogor mengalami peningkatan.
Salah satunya terlihat di rumah produksi barongsai milik perajin Lili Hambali yang berlokasi di Kelurahan Babakan Pasar, Kota Bogor.
Sejak pagi hingga menjelang siang, para pekerja tampak sibuk menyelesaikan pesanan barongsai dan liong yang datang dari berbagai daerah. Peningkatan pesanan membuat mereka harus kerja lebih keras mengejar target.
Lili Hambali mengatakan, jumlah pesanan tahun ini meningkat sekitar 20 persen dibandingkan tahun lalu.
Peningkatan tersebut dipicu semakin maraknya kompetisi dan pertandingan barongsai, seiring pengakuan barongsai sebagai cabang olahraga resmi.
“Tahun ini ada kenaikan pesanan. Banyak event dan pertandingan barongsai, jadi permintaan juga ikut naik,” ujarnya, Senin 9 Februari 2026.
Ia menjelaskan, pada pertengahan tahun lalu saja pihaknya telah memproduksi sekitar 100 rangka barongsai, namun jumlah tersebut masih belum mencukupi permintaan.
Untuk tahun ini, meski tidak menghitung secara rinci, produksi diperkirakan mencapai sekitar 70 hingga 80 set barongsai dan liong.
Pesanan bahkan sudah menumpuk sejak tiga bulan sebelum Imlek. Lili mengaku terpaksa menutup order sejak Desember 2025 agar seluruh pesanan dapat diselesaikan tepat waktu.
“Sejak Desember kami sudah close order. Kami harus memperhitungkan waktu pengerjaan dan cuaca, supaya semuanya selesai sebelum Imlek,” katanya.
Untuk harga, satu set barongsai dipasarkan sekitar Rp6,5 juta, sedangkan satu set liong atau naga dijual dengan kisaran Rp9,5 juta hingga Rp10 juta.
Produk-produk tersebut dikirim ke berbagai wilayah di Indonesia, mulai dari Sumatera, Makassar, hingga Papua. Konsumen umumnya mengetahui produk melalui media sosial dan rekomendasi dari mulut ke mulut.
“Tahun ini tidak ada ekspor ke luar negeri. Tapi sebelumnya kami pernah kirim ke Taiwan dan Austria,” jelas Lili.
Dalam proses produksinya, barongsai dan liong dibuat menggunakan rangka rotan yang dinilai lebih fleksibel dan tidak mudah patah dibandingkan bambu.
Untuk bagian bulu, digunakan bulu domba impor dari Cina, sementara aksesoris sebagian besar juga berasal dari luar negeri.
Sebelum dipasang kertas, rangka terlebih dahulu dilapisi kain kasa agar lebih kuat dan tidak mudah robek saat benturan.
Pengerjaan satu set barongsai membutuhkan waktu sekitar satu minggu lebih, sedangkan liong bisa mencapai dua minggu, tergantung kondisi cuaca.
Saat ini, Lili mempekerjakan lima orang dengan pembagian tugas mulai dari pembuatan rangka, pemasangan kertas dan aksesoris, hingga pelukisan.
Menurutnya, tantangan terbesar dalam produksi adalah faktor cuaca. Proses sablon pada liong sangat bergantung pada panas matahari. Jika musim hujan, waktu pengerjaan bisa molor hingga dua kali lipat.
Selain itu, ketersediaan bahan baku juga kerap menjadi kendala, terutama menjelang Imlek. Warna favorit seperti merah dan kuning sering habis di tingkat importir. Kesulitan lain datang dari keterbatasan sumber daya manusia.
“Mencari tenaga kerja tidak mudah. Pekerjaan ini butuh jiwa seni, ketelatenan, dan kesabaran,” pungkasnya. (uma)
Editor : Yosep Awaludin