RADAR BOGOR – Kasus seorang anak sekolah dasar di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang diduga mengakhiri hidupnya di awal 2026 menjadi perhatian berbagai pihak.
Staf Ahli Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) RI, Yane Ardian, menilai peristiwa tersebut harus dilihat secara komprehensif, terutama dari aspek keluarga dan tekanan ekonomi.
Menurut Yane, faktor kemiskinan menjadi salah satu penyebab utama yang tidak bisa diabaikan. Tekanan ekonomi dalam keluarga, kata dia, sangat memengaruhi perkembangan sosial-emosional anak.
“Tekanan ekonomi yang berat dapat mengganggu kesejahteraan subjektif ibu. Ini yang sering luput kita lihat. Ketika anak bermasalah atau melakukan perilaku negatif, bukan hanya anak yang perlu diterapi, tetapi yang utama justru ibunya,” ujar Yane dalam forum OBSESI (Obrolan Serius Mencari Solusi) yang digelar Radar Bogor di Graha Pena Radar Bogor, Rabu 11 Februari 2026.
Ia menjelaskan, dalam kajian ilmu keluarga dan perkembangan anak, kondisi psikologis ibu sangat menentukan kualitas pengasuhan.
Jika kesejahteraan emosional ibu terganggu akibat tekanan ekonomi maupun konflik rumah tangga, maka dampaknya akan dirasakan langsung oleh anak.
Yane juga menyoroti aspek perkembangan otak anak. Ia menegaskan bahwa anak usia sekolah dasar belum sepenuhnya memahami konsep kematian.
“Anak kecil belum memahami bahwa kematian itu selamanya. Sistem limbik atau pusat emosi sudah aktif sejak lahir, tetapi bagian otak untuk berpikir rasional, yakni prefrontal cortex, baru matang sempurna sekitar usia 25 tahun,” jelasnya.
Karena itu, ketika seorang anak mengambil keputusan ekstrem, kerap kali keputusan tersebut lebih didorong oleh emosi sesaat, bukan pertimbangan rasional yang matang.
Selain faktor ekonomi, Yane menekankan pentingnya kualitas relasi dalam keluarga. Rumah seharusnya menjadi tempat aman dan nyaman bagi anak untuk kembali dan bercerita.
“Kalau konflik orang tua sering terjadi, komunikasi terasa dingin, dan tidak ada dukungan emosional, maka rumah tidak lagi menjadi tempat kembali bagi anak. Di situlah anak menjadi rentan,” katanya.
Dalam sesi tanya jawab, Yane juga mengingatkan pentingnya deteksi dini terhadap gejala tekanan psikologis pada anak dan remaja. Orang tua maupun lingkungan terdekat diminta peka terhadap perubahan perilaku.
Perubahan pola tidur, pola makan, hingga hubungan sosial menjadi indikator awal yang perlu diperhatikan.
Di bidang akademik, misalnya, anak mulai sering bolos, mengeluh tugas terlalu banyak, atau tidak mampu menyelesaikan kewajibannya.
Sementara dari sisi sosial, anak cenderung menarik diri dan memilih menyendiri.
“Sinyal-sinyal itu jangan diabaikan. Perubahan kecil dalam perilaku bisa menjadi tanda adanya tekanan psikologis,” ujarnya.
Ia menambahkan, pencegahan tidak cukup dilakukan secara kasus per kasus. Perlu upaya menyeluruh mulai dari penguatan ekonomi keluarga, peningkatan literasi pengasuhan, hingga memastikan layanan dasar masyarakat berjalan optimal.
“Yang harus kita telusuri bukan hanya peristiwanya, tetapi alur keluarganya. Sejauh mana dukungan emosional diberikan, dan sejauh mana tekanan ekonomi memengaruhi kemampuan orang tua dalam mengasuh anak,” tandasnya. (uma)
Editor : Alpin.