RADAR BOGOR – Fenomena gangguan kesehatan mental (mental illness) pada anak dan remaja di Indonesia kian mengkhawatirkan.
Kondisi ini bahkan kerap diibaratkan sebagai fenomena gunung es, kasus yang terdeteksi jauh lebih sedikit dibandingkan realitas yang terjadi di lapangan.
Sejumlah data menunjukkan adanya peningkatan signifikan gangguan kesehatan mental pada generasi muda.
Survei menyebutkan, satu dari tiga remaja Indonesia atau sekitar 34,9 persen mengalami masalah kesehatan mental.
Di Kota Bogor sendiri, dalam beberapa waktu terakhir tercatat kasus mahasiswa maupun warga yang ditemukan meninggal dunia akibat bunuh diri.
Merespons kondisi tersebut, Radar Bogor menggelar forum OBSESI (Obrolan Serius Mencari Solusi) bertema “Selamatkan Mental Health Generasi Muda”.
Kegiatan ini berlangsung di Graha Pena Radar Bogor, Jalan KHR Abdullah Bin M Nuh No. 30, Taman Yasmin, Kota Bogor, Rabu 11 Februari 2026.
Pemimpin Redaksi Radar Bogor Ricky Noor Rachman menegaskan, kasus bunuh diri pada anak dan remaja menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.
Ia menyinggung peristiwa tragis di Ngada, NTT, yang melibatkan anak usia sekolah dasar.
“Ini seperti fenomena gunung es dan bom waktu yang meledak. Pemerintah, stakeholder, masyarakat, semua harus bertanggung jawab. Jangan sampai kejadian serupa terulang,” ujarnya.
Direktur Radar Bogor, Nihrawati, menambahkan tantangan kesehatan mental anak semakin kompleks di era digital yang serba cepat.
Informasi yang datang bertubi-tubi kerap diserap tanpa filter, bahkan oleh anak-anak sejak usia dini.
“Kita hidup di era digital. Banyak konten kekerasan beredar tanpa kontrol. Bahkan ada orang tua yang membuat konten kekerasan demi viralitas, tanpa memikirkan dampaknya terhadap anak,” katanya.
Menurutnya, persoalan mental health anak tidak bisa hanya dibebankan pada individu, melainkan berakar dari keluarga dan lingkungan terdekat.
Karena itu, dibutuhkan ruang yang aman, empatik, dan bertanggung jawab bagi tumbuh kembang anak.
Dari sisi media, lanjut Nihrawati, pemberitaan kasus kekerasan maupun bunuh diri harus dilakukan secara hati-hati sesuai Kode Etik Jurnalistik.
Media arus utama tidak diperkenankan memuat detail proses bunuh diri agar tidak memicu peniruan.
Namun, tantangan di media sosial jauh lebih besar. Meski platform memiliki pedoman komunitas, konten berunsur kekerasan hingga permainan digital yang mengandung unsur bunuh diri masih mudah diakses anak-anak tanpa pendampingan.
“Ditambah lagi perkembangan Artificial Intelligence (AI) yang memungkinkan manipulasi suara dan wajah. Ini berbahaya jika tidak disertai literasi digital yang kuat,” ujarnya.
Melalui forum OBSESI, Radar Bogor menghadirkan berbagai pemangku kepentingan untuk berdiskusi dan merumuskan langkah konkret pencegahan.
Forum ini menghadirkan Direktur Utama RS Marzoeki Mahdi (RSMM) Bogor dr. Nova Riyanti Yusuf, Staf Ahli TP PKK RI Yane Ardian, Kepala DP3A Kota Bogor Rakhmawati, perwakilan Dinas Kesehatan Kota Bogor Bai Kusnadi.
Staf Ahli TP PKK RI Yane Ardian menilai, faktor kemiskinan dan tekanan ekonomi keluarga menjadi pemicu besar gangguan kesehatan mental anak.
Namun, menurutnya, yang perlu diperhatikan bukan hanya kondisi anak, melainkan juga kesejahteraan subjektif ibu.
“Ketika anak bermasalah, yang pertama harus kita lihat dan terapi adalah ibunya. Jika ibu tertekan secara emosional akibat beban ekonomi, itu sangat memengaruhi pola asuh dan perkembangan sosial-emosional anak,” jelasnya.
Yane menambahkan, anak usia 9–10 tahun belum sepenuhnya memahami bahwa kematian bersifat permanen.
Karena itu, deteksi dini harus dilakukan melalui pengamatan perubahan pola tidur, pola makan, prestasi akademik, hingga hubungan sosial anak.
Sementara itu, Dirut RSMM dr. Nova Riyanti Yusuf memaparkan empat sinyal bahaya ide bunuh diri pada remaja, yakni kesepian (loneliness), merasa menjadi beban (burdensomeness), kehilangan rasa memiliki (belongingness), dan putus asa (hopelessness).
Berdasarkan penelitiannya, sebelum pandemi 13,8 persen remaja memiliki risiko tinggi ide bunuh diri. Angka itu melonjak menjadi 49–51 persen pada masa pandemi dalam survei terhadap mahasiswa baru.
“Pencegahan harus fokus pada deteksi faktor risiko. Jangan menunggu saat seseorang sudah berteriak minta tolong,” tegasnya.
Nova juga menyoroti tren penyalahgunaan gas Nitrous Oxide atau yang viral disebut “tabung pink”.
Menurutnya, menghirup gas tersebut untuk mabuk dapat merusak saraf karena memicu defisiensi vitamin B12.
“Whipped cream itu untuk kopi, bukan gasnya yang dihirup. Ini bentuk eskapisme yang berbahaya,” katanya.
Dari sisi layanan, Dinas Kesehatan Kota Bogor mencatat hasil skrining terhadap 27.599 anak usia 7–17 tahun sepanjang 2025 menunjukkan 625 anak (2,2 persen) terindikasi memiliki masalah kesehatan jiwa.
Sebanyak 130 anak mengalami gejala kecemasan dan 136 anak menunjukkan gejala depresi.
“Kami sudah menyiagakan 25 puskesmas dengan tenaga terlatih serta kerja sama rujukan ke RSMM. Ke depan, Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat perlu diaktifkan kembali agar penanganan lintas sektor lebih kuat,” ujar Bai Kusnadi.
Di sisi lain, Kepala DP3A Kota Bogor Rakhmawati menekankan pentingnya ruang aman bagi anak untuk bercerita.
Berdasarkan data 2022, terdapat 88 kasus kekerasan terhadap anak yang dilaporkan dan ditangani dinas.
“Anak-anak butuh wadah untuk curhat. Kami membuka akses langsung dan memperkuat peran di kelurahan untuk deteksi dini. Jangan sampai mereka memendam masalah sendirian,” katanya. (uma)
Editor : Alpin.