RADAR BOGOR - Pemerintah Kota Bogor menyiapkan sejumlah proyek konektivitas jalan dan transportasi sebagai bagian dari strategi jangka panjang mengurai kemacetan sekaligus memperkuat sistem darurat perkotaan.
Wali Kota Bogor, Dedie Rachim menyampaikan, peningkatan kualitas ruas jalan, pembangunan jalur tembus, hingga rencana underpass Kebon Pedes tengah dikaji secara menyeluruh.
Dedie Rachim menilai, berbagai inefisiensi lalu lintas selama ini terjadi karena jalur alternatif yang sebenarnya sudah dirancang sejak lama belum dimanfaatkan secara optimal.
Salah satu contohnya, kata Dedie Rachim, rencana penghubung dari kawasan sekitar SMAN 3 Bogor atau Jalan Ciheuleut menuju Vila Duta hingga tersambung ke Jalan Regional Ring Road 3 (R3).
Jalur tersebut dinilai, dapat memangkas perjalanan warga menuju akses tol tanpa harus memutar melalui Jalan Pajajaran dan kawasan Baranangsiang.
Selain itu, pemerintah kota juga tengah memetakan peningkatan konektivitas antara wilayah Bubulak dan Loji.
Ruas tersebut diharapkan dapat menjadi alternatif bagi warga Bogor Barat termasuk dari Dramaga, Ciomas, dan Situ Gede agar tidak seluruhnya menumpuk di simpang Semplak atau koridor Cilendek saat menuju pusat kota.
Kepada Radar Bogor, menurut Dedie Rachim, kebijakan penanganan kemacetan tidak hanya dilakukan dengan membuka jalan baru, tetapi juga meningkatkan kelas jalan yang sudah ada.
Sejumlah ruas yang sebelumnya tergolong kelas tiga akan diperlebar, dilengkapi sistem drainase, serta ditunjang fasilitas keselamatan dan penataan ruang milik jalan.
Ia juga menyinggung kembali rencana pembangunan underpass di Kebon Pedes yang telah lama diwacanakan.
Namun, ia menekankan, prioritas krusial saat ini adalah membangun sodetan penghubung antara Jalan Dadali dan Sukaresmi sepanjang sekitar 500 meter.
Jalur ini, sambung Dedie Rachim, diproyeksikan sebagai rute cadangan apabila terjadi gangguan di jembatan nasional di kawasan tersebut, yang selama ini menjadi titik vital lalu lintas Kota Bogor.
Dedie menambahkan, kondisi jembatan Satu Duit yang melintasi Sungai Ciliwung itu perlu mendapat perhatian serius karena usianya yang sudah sangat tua, bahkan dibangun sejak masa kolonial.
Oleh sebab itu, pemerintah kota terus mendorong pemerintah pusat untuk melakukan perbaikan atau penggantian struktur jembatan, sekaligus menyiapkan jalur alternatif agar aktivitas warga tetap berjalan saat proses renovasi dilakukan.
Dalam konteks perencanaan kota modern, Dedie Rachim menegaskan, pentingnya menyiapkan skema kontingensi menghadapi kondisi darurat, termasuk potensi bencana alam.
Jalur Dadali–Sukaresmi juga dirancang sebagai akses menuju pengembangan stasiun bongkar muat atau stoplet Sukaresmi yang lahannya telah dibebaskan seluas sekitar 1,6 hektare.
Ia memaparkan, kawasan tersebut berpotensi dikembangkan sebagai pusat distribusi produk pertanian yang dikirim ke Jakarta melalui moda kereta api.
Bogor dinilai, memiliki keunggulan sebagai daerah penyangga produksi pangan, baik dari wilayah barat kota maupun Kabupaten Bogor seperti Leuwiliang, Jasinga, Dramaga, hingga Situ Gede.
Pengembangan stoplet agrikultur ini, lanjut Dedie Rachim, tidak hanya mencakup pengoperasian kereta logistik, tetapi juga pembangunan gudang, fasilitas distribusi, serta pusat logistik terpadu guna mendukung program ketahanan dan kemandirian pangan.
Saat ini, pemerintah kota masih melakukan kajian teknis awal sebelum masuk ke tahap detail engineering design (DED).
Proses tersebut akan mencakup pemetaan lahan, kontur tanah, pekerjaan pematangan lahan, hingga kebutuhan pembebasan bidang tanah.
Dedie Rachim menegaskan, Kota Bogor tidak bisa berpuas diri dengan kondisi infrastruktur yang ada saat ini dan harus terus berinovasi dalam merancang sistem transportasi yang tangguh dan adaptif terhadap kebutuhan masa depan.
"Jadi enggak bisa kita berpuas diri dengan kondisi yang ada sekarang," tutur Wali Kota Bogor, Dedie Rachim kepada Radar Bogor di Graha Pena. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim