RADAR BOGOR - Wali Kota Bogor, Dedie Rachim menegaskan, persoalan transportasi kini menjadi isu krusial yang akan menentukan arah pertumbuhan ekonomi Kota Bogor.
Menurutnya, tanpa pembenahan sistem transportasi yang terintegrasi, kota ini berisiko mengalami stagnasi di tengah tingginya mobilitas warga ke wilayah Jabodetabek.
Dedie Rachim menjelaskan, salah satu program yang kembali mengemuka adalah konsep Transit Oriented Development (TOD).
Skema ini dinilai selaras dengan kebijakan pemerintah pusat melalui Peraturan Presiden terkait percepatan implementasi Light Rail Transit (LRT).
Dedie Rachim menyampaikan, apabila jalur LRT benar-benar diperpanjang hingga Bogor, maka pemerintah daerah wajib menyiapkan sistem transportasi terpadu yang mampu mengakomodasi lonjakan penumpang.
TOD, menurut Dedie Rachim, merupakan salah satu instrumen penting dalam mendukung integrasi tersebut.
Dedie Rachim menyoroti kawasan Baranangsiang yang saat ini belum sepenuhnya terintegrasi dengan rencana pengembangan LRT.
Ia mengungkapkan, telah berkomunikasi dengan Kementerian Perhubungan mengenai perlunya penyesuaian tata kelola kawasan tersebut, mengingat aset dan kewenangannya berada di bawah pemerintah pusat.
Menurut Dedie Rachim, perencanaan Baranangsiang harus selaras dengan skema distribusi penumpang LRT.
Dalam satu rangkaian kereta LRT, kapasitas dapat mencapai sekitar 150 penumpang yang turun secara bersamaan di satu titik.
Kondisi ini memerlukan sistem transportasi lanjutan yang seimbang agar tidak menimbulkan kepadatan baru.
Data menunjukkan sekitar 20 persen warga Kota Bogor bekerja di wilayah Jabodetabek, termasuk Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi.
Mobilitas tinggi ini tercermin dari aktivitas di Stasiun Bogor yang setiap hari melayani hampir 100 ribu penumpang dengan sekitar 400 perjalanan KRL per hari dan jeda keberangkatan rata-rata 5 menit.
Dedie Rachim menilai, kapasitas tersebut sudah mendekati batas maksimal sehingga tidak memungkinkan lagi penambahan perjalanan secara signifikan.
Karena itu, kehadiran LRT dinilai sebagai terobosan yang diperlukan untuk mengurai kepadatan komuter.
Ia menambahkan, dalam regulasi yang telah diterbitkan pemerintah pusat, Baranangsiang direncanakan menjadi stasiun akhir LRT di Bogor.
Dengan demikian, kesiapan kawasan tersebut menjadi kunci dalam mendukung sistem transportasi modern dan terintegrasi di masa depan.
"Kita enggak bisa lagi mikirinnya urusan remeh-temeh," jelas Dedie Rachim kepada Radar Bogor. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim