RADAR BOGOR - Wali Kota Bogor, Dedie Rachim kembali mengangkat wacana pengembangan moda transportasi trem listrik sebagai solusi jangka panjang menghadapi tingginya penggunaan kendaraan pribadi dan ketergantungan terhadap bahan bakar minyak (BBM).
Dedie Rachim menilai, persoalan transportasi perkotaan tidak bisa dilepaskan dari isu energi nasional.
Dedie Rachim menyoroti, tingginya kebutuhan BBM dalam negeri yang sebagian masih bergantung pada impor.
Kondisi tersebut dinilai rentan, terlebih jika terjadi gangguan pasokan atau lonjakan harga energi global.
Menurut Dedie Rachim, ketergantungan pada kendaraan pribadi menjadi salah satu faktor utama tingginya konsumsi BBM.
Karena itu, Dedie Rachim berpandangan, kebijakan subsidi sebaiknya secara bertahap dialihkan untuk memperkuat transportasi publik, bukan semata-mata mempertahankan subsidi bahan bakar.
Dedie Rachim menjelaskan, trem listrik dapat menjadi alternatif angkutan massal ramah lingkungan di dalam kota.
Dalam satu rangkaian, trem diperkirakan mampu mengangkut sekitar 150 penumpang, setara dengan pengurangan signifikan kendaraan roda dua maupun roda empat di jalan raya.
Dedie Rachim menegaskan, pengembangan moda listrik seperti trem merupakan langkah antisipatif apabila di masa depan terjadi kelangkaan atau kenaikan harga BBM.
Dengan sistem transportasi publik yang terintegrasi, terjangkau, dan memiliki kepastian waktu tempuh, masyarakat diharapkan terdorong beralih dari kendaraan pribadi.
Dedie Rachim menyebutkan, Pemerintah Kota Bogor telah memiliki konsep awal pengembangan trem dan tidak disusun secara sembarangan.
"Itu hitungan matematis sebetulnya, dan kita sudah punya konsep, supaya kita enggak ketinggalan zaman," jelas Dedie Rachim kepada Radar Bogor saat diwawancarai.
Studi kelayakan bahkan telah melibatkan perusahaan internasional berpengalaman, termasuk konsultan dari Prancis yang telah melakukan kajian awal.
Menurut Dedie Rachim, hasil studi tersebut menunjukkan bahwa Kota Bogor memiliki potensi untuk mengembangkan sistem trem modern sebagai bagian dari transformasi transportasi perkotaan.
Dedie Rachim menegaskan, meski realisasinya membutuhkan proses dan waktu, perencanaan harus disiapkan sejak sekarang agar Kota Bogor tidak tertinggal dalam pengembangan transportasi berkelanjutan di masa depan. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim