Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Tradisi Mandi Rupang di Vihara Dhanagun Kota Bogor, Simbol Penyucian Diri Sambut Tahun Baru Imlek

Fikri Rahmat Utama • Kamis, 12 Februari 2026 | 16:13 WIB
Sejumlah Warga keturunan Tionghoa melaksanakan Mandi Rupang di Vihara Dhanagun Kota Bogor, menyambut perayaan tahun baru Imlek, Kamis 12 Februari 2026.
Sejumlah Warga keturunan Tionghoa melaksanakan Mandi Rupang di Vihara Dhanagun Kota Bogor, menyambut perayaan tahun baru Imlek, Kamis 12 Februari 2026.

RADAR BOGOR – Sejumlah warga Tionghoa melaksanakan tradisi Mandi Rupang di Vihara Dhanagun, Kota Bogor, Kamis 12 Februari 2026.

Ritual sakral ini dilakukan dengan membersihkan patung dewa-dewi atau rupang serta altar, sebagai simbol penyucian diri lahir dan batin menjelang Tahun Baru Imlek.

Sejak pagi, umat tampak bergotong royong membersihkan area vihara. Sebelumnya, mereka lebih dulu membersihkan abu hio dan area tempat sembahyang. Setelah itu, barulah dilakukan pembersihan rupang secara menyeluruh.

Pengurus Harian Vihara Dhanagun, Ayung Kusuma menjelaskan, tradisi tersebut memang hanya dilakukan satu kali dalam setahun, yakni menjelang Imlek.

“Hari ini ada acara bersih-bersih di vihara karena mau menjelang Imlek. Kemarin kami sudah membersihkan tempat sembahyang, seperti abu hio. Setelah itu baru sekarang membersihkan rupang,” ujarnya.

Ia menegaskan, pembersihan rupang tidak boleh dilakukan sembarangan. Di luar momen menjelang Imlek, patung-patung tersebut tidak diperkenankan untuk disentuh atau dipindahkan tanpa keperluan ritual.

“Patung-patung ini hanya boleh dibersihkan secara menyeluruh satu tahun sekali, saat menjelang Tahun Baru Imlek. Di hari biasa tidak boleh sembarangan dipegang. Ini bagian dari tradisi dan bentuk penghormatan kepada yang kita sembahkan,” jelasnya.

Menurut Ayung, secara filosofi wujud fisik patung bukanlah hal utama. Rupang merupakan representasi tokoh-tokoh atau dewa dengan nilai-nilai kebajikan yang dijadikan pedoman hidup.

Di antaranya Dewa Bumi, Dewa Rahmat atau Welas Asih, serta Dewa Keadilan. “Wujudnya tergantung seni ukiran pembuatnya. Tapi yang terpenting maknanya. Kita diajarkan untuk berlaku adil dan memiliki rasa cinta kasih,” katanya.

Setelah prosesi Mandi Rupang, umat akan melanjutkan persiapan dekorasi vihara, seperti pemasangan lampion.

Pada malam pergantian tahun Imlek, biasanya dilakukan penyalaan lilin dan sembahyang bersama tepat pukul 00.00.

“Biasanya malam sebelum Imlek kami bakar lilin di depan, lalu sembahyang bersama jam 12 malam. Setelah itu saling memaafkan,” ucapnya.

Namun, menurutnya, perayaan Imlek tidak hanya berpusat di vihara. Momentum tersebut juga menjadi ajang mempererat hubungan keluarga.

Tradisinya, seluruh anak wajib berkumpul di rumah orang tua untuk sungkem. Setelah itu, adik-adik akan mengunjungi rumah kakak tertua sebagai bentuk penghormatan kepada yang dituakan.

“Imlek itu intinya bukan hanya di vihara, tapi juga di rumah masing-masing. Yang paling tua dikunjungi. Itu bagian dari tradisi menghormati keluarga,” tuturnya.

Ayung menambahkan, kegiatan bersih-bersih vihara dilakukan secara sukarela tanpa panitia khusus.

Umat yang ingin membantu dipersilakan bergotong royong sebagai bentuk kebersamaan menyambut tahun baru.

Melalui tradisi Mandi Rupang, umat Tionghoa di Kota Bogor berharap dapat memasuki Tahun Baru Imlek dengan hati yang bersih, penuh harapan, serta semangat kebersamaan.(uma)

Editor : Alpin.
#kota bogor #vihara dhanagun #imlek