Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Proyek Strategis Nasional Double Track Batu Tulis Bogor, Wali Kota Dedie Rachim: 3.000 KK Direlokasi, Trase Baru Ditargetkan Dibangun 2026

Lucky Lukman Nul Hakim • Jumat, 13 Februari 2026 | 08:54 WIB
Wali Kota Bogor, Dedie Rachim (kanan) berdialog di Graha Pena Radar Bogor membahas proyek Batu Tulis.
Wali Kota Bogor, Dedie Rachim (kanan) berdialog di Graha Pena Radar Bogor membahas proyek Batu Tulis.

RADAR BOGOR - Perkembangan proyek strategis nasional (PSN) jalur ganda atau double track Batu Tulis di Kota Bogor terus berlanjut.

Wali Kota Bogor, Dedie Rachim, menyampaikan bahwa pemerintah daerah telah menuntaskan relokasi ribuan kepala keluarga dan kini menyiapkan pembangunan trase jalan baru sebagai solusi dampak pembangunan underpass.

Dengan gamblang, Wali Kota Bogor Dedie Rachim menjelaskan, proyek Batu Tulis merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional yang pelaksanaannya berada di bawah kewenangan pemerintah pusat.

Pemerintah Kota Bogor, kata Dedie Rachim, sejak awal berperan membantu secara nonteknis, terutama dalam proses relokasi warga yang terdampak.

"Sejak awal memang pemerintah daerah Kota Bogor ini membantu secara nonteeknis sebetulnya," jelas Dedie Rachim kepada Radar Bogor.

Dedie Rachim menyebutkan, sebanyak kurang lebih 3.000 kepala keluarga yang selama bertahun-tahun menempati lahan milik PT Kereta Api Indonesia di sepanjang jalur Paledang hingga Ciomas Rancamaya telah direlokasi.

Proses relokasi tersebut berlangsung kondusif dan menjadi salah satu tahapan penting dalam mendukung kelancaran proyek.

Selanjutnya, pembangunan Stasiun Paledang telah rampung, sementara pembangunan Stasiun Batu Tulis sempat berjalan bertahap.

Dalam proyek double track ini, pemerintah pusat memutuskan tidak lagi menggunakan perlintasan sebidang.

Opsi pembangunan underpass atau flyover sempat dikaji, namun melalui Balai Teknik Perkeretaapian Jawa Barat dan Daops, diputuskan pembangunan underpass sebagai solusi utama.

Menurut Dedie Rachim, underpass tersebut kini telah selesai dibangun.

Namun, perubahan kontur tanah akibat pembangunan konstruksi dan sistem penahan air memicu persoalan geoteknis di kawasan Batu Tulis.

Dedie Rachim menilai kondisi hidrogeografis di lokasi tersebut memerlukan penanganan khusus karena terjadi pergerakan tanah.

Secara faktual di lapangan, sisa badan jalan yang dapat dilintasi kendaraan roda empat kini hanya sekitar tiga meter dari lebar awal yang mencapai delapan hingga sepuluh meter.

Kondisi ini membuat pemerintah daerah harus menyiapkan alternatif trase jalan baru.

Pemerintah Kota Bogor telah menyiapkan rencana trase baru dari Jalan Batu Tulis menuju Jalan Saleh Danasasmita Underpass.

Namun, berdasarkan rekomendasi kementerian terkait dan Badan Geologi, kawasan tersebut tergolong rawan sehingga pembangunan harus melalui kajian teknis yang matang.

Sebagai langkah sementara, pemerintah melakukan penguatan melalui pemasangan bronjong, perkuatan fondasi, serta penanganan tebing penahan tanah.

Meski demikian, solusi tersebut dinilai belum bersifat permanen.

Untuk solusi jangka panjang, pembebasan lahan trase baru direncanakan pada tahun anggaran 2025 dengan kebutuhan sekitar 4.000 meter persegi lahan milik warga.

Setelah proses pembebasan rampung, pembangunan fisik trase baru ditargetkan mulai awal 2026.

Dengan tahapan tersebut, Wali Kota Bogor Dedie Rachim berharap, proyek double track Batu Tulis sebagai bagian dari Proyek Strategis Nasional dapat berjalan optimal.

Sekaligus, kata Dedie Rachim, memastikan aksesibilitas dan keselamatan masyarakat tetap terjaga. (*)

Editor : Lucky Lukman Nul Hakim
#kota bogor #wali kota bogor #double track #Dedie Rachim #batu tulis