RADAR BOGOR - Pelatihan Kader Lanjut (PKL) PMII Kota Bogor kembali digelar, Kamis 12 Februarii 2026. Kegiatan ini sudah menjadi rangkaian agenda, yang rutin dilaksanakan.
Tahun ini PKL PMII Kota Bogor dilaksanakan selama tiga hari hingga Minggu 15 Februari 2026. Sedikitnya ada 21 kader PMII yang mengikuti kegiatan tersebut.
Ketua Pelaksana PKL PMII Kota Bogor, Ardian Fatkhurohman mengatakan peserta PKL merupakan hasil seleksi ketat. Mereka datang dari berbagai daerah di Indonesia.
Ardian menegaskan para peserta PKL diproyeksikan menjadi aktor advokasi rakyat berbasis ekosistem digital yang inklusif dan kolaboratif.
“Kami ingin kader PMII tetap progresif, tanpa kehilangan nilai kemanusiaan dan kearifan lokal,” ujar Ardian dalam sambutannya
PKL disebutnta sebagai puncak kaderisasi formal PMII tingkat ketiga. Ia menekankan pentingnya kemampuan berpikir kritis dan ketangguhan intelektual di era digital.
“PKL ini dirancang untuk melatih problem solving yang kompleks dan kesiapan menghadapi ketidakpastian,” tegas Ardian.
Ketua Cabang PMII Kota Bogor, Abdullah Nuruzzaini, mengatakan kekuatan organisasi kader tidak hanya ditentukan oleh struktur dan aktivitas.
Hal utama adalah internalisasi nilai perjuangan dalam diri setiap kader. “Nilai bukan hanya metode gerakan, tapi juga cara berpikir,” ujarnya.
Abdullah menyebut PMII mengajarkan keseimbangan antara teks dan konteks, tradisi dan inovasi, serta idealisme dan realitas sosial.
Internalisasi nilai Ahlussunnah wal Jama’ah, kata dia, bukan untuk membentuk kader yang eksklusif. “Yang ingin dibangun adalah kader yang moderat, bijaksana, dan progresif,” tegasnya.
Internalisasi nilai bukan proses instan. Proses ini membutuhkan kesungguhan intelektual, kedalaman spiritual, dan ketangguhan moral.
Kader dituntut tidak hanya memahami nilai, tetapi juga menghidupkannya dalam gerakan. “PKL bukan sekadar kaderisasi formal. Ini ruang dialektika dan laboratorium ideologi,” terangnya.
Pembukaan PKL PMII Kota Bogor ini turut dihadiri oleh Wali Kota Dedie Rachim. Ia menilai tema Kaderisasi 5.0 A New Era A Head sangat relevan dengan tantangan di masa depan.
Dedie menyoroti tingginya ketergantungan Indonesia terhadap energi impor. Saat ini, kebutuhan minyak nasional mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sementara produksi dalam negeri masih jauh di bawahnya. “Ketergantungan energi ini harus menjadi perhatian serius generasi muda,” katanya.
Ia menegaskan, tantangan masa depan bukan hanya soal kemajuan, tetapi juga kemampuan bertahan. Mulai dari pemenuhan energi dan pangan, hingga daya saing sumber daya manusia.
“PMII harus mengambil peran dalam mendorong energi bersih dan pembangunan SDM unggul,” pungkasnya. (bay)
Editor : Yosep Awaludin