RADAR BOGOR - Mayoritas lulusan SD di Kota Bogor memilih langsung bekerja ketimbang melanjutkan pendidikan, jika dikalkulasikan angkanya mencapai 27,40 persen.
Data tersebut dihimpun oleh Badan Pusat Statistika (BPS) Kota Bogor. Ini merupakan
Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2024 yang dikeluarkan pada tahun 2025.
Wali Kota Bogor Dedie A Rachim membenarkan informasi tersebut. Data itu disebutnya selaras dengan angka Rata Lama Sekolah (RLS) di Kota Bogor.
“RLS di kita itu masih dikisaran 10 hingga 11 tahun belajar. Jadi belum sepenuhnya memenuhi wajib belajar 12 tahun,” ungkap Dedie pada Radar Bogor.
Namun Pemkot Bogor digaransi tidak akan tinggal diam dan berkomitmen untuk bisa merealisasikan wajib belajar selama 12 tahun di wilayah ini.
Tidak tercapainya wajib belajar 12 tahun disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama rasio dan sebaran sekolah di Kota Bogor belum merata.
“Maka kedepan kita akan menyeimbangkan rasio jumlah dan sebaran sekolah yang ada di Kota Bogor ini insyaallah,” tegas Dedie.
Dalam dua tahun kedepan Kota Bogor akan menambah dua bangunan SMA Negeri baru. Proyek ini bakal dikerjasamakan dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
“Kami akan membangun gedung SMAN 11 dan 12. Yang negeri 11 itu lokasinya sudah ada yaitu di Kayumanis sementara yang SMAN 12 di Kertamaya,” terang Dedie.
Pada tahun ini, Pemkot Bogor juga turut memberikan beasiswa pendidikan. Program ini dikhususkan bagi siswa kurang mampu yang bersekolah di jenjang pendidikan swasta.
“Jumlah swasta sudah memadai, hanyakan berbayar, tahun ini akan ada 2.000 beasiswa untuk siswa kurang mampu yang masuk ke sekolah swasta,” ucap Dedie.
Dua langkah tersebut dipandang bisa memantik siswa unruk semangat belajar. Sehingga tidak lagi lulusan SD memilih untuk langsung bekerja.
Sekretaris Disnaker Kota Bogor, Sahib Khan mengatakan lulusan SD yang langsung bekerja mayoritas masuk ke sektor informal. Seperti buruh atau berjualan.
“Jadi istilahnya yang penting mereka bekerja. Kebanyaka lulusan SD ini bekerja disegmen informal. Kaya buruh bangunan atau jualan ini analisa saya,” ucap Sahib.
Bagi Sahib fenomena ini bukan satu masalah. Sebab kebangakan diantara mereka yang justru mendapatkan income perbulan lebih banyak dari UMK Kota Bogor yang ditetapkan.
“UMK Kota Bogor itukan sekarang Rp5,4 juta. Nah mereka yang lulusan SD ini kalau yang berjualan kadang-kadang omsetnya seharu ada yang mencapai Rp200 ribu,” pungkansya (bay)
Editor : Eka Rahmawati