RADAR BOGOR - Sejumlah komunitas di Bogor berkolaboratif menggelar ziarah rowah yang dirangkai dengan peringatan haul Mbah Dalem Batutulis dan Kasepuhan Dayeuh Pakuan Bogor, bertepatan dengan tanggal 26 Syaban 1447 H, Sabtu 14 Februari 2026).
Kegiatan tersebut dilangsungkan di Situs Makam Keramat Mbah Dalem Batutulis, yang terletak di Jalan Lawanggintung – Batutulis No 17, Kelurahan Batutulis, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, yang dihadiri 54 orang peserta dari Kota dan Kabupaten Bogor.
Perhelatan bertajuk budaya tersebut mengangkat tema “Babakti Karuhun: Ngaraketkeun Purwadaksi, Nyaluyukeun Ageman jeung Budaya Dina Kahirupan Balarea Tatar Sunda”.
Acara yang dikemas secara sederhana ini, diprakarsai bersama Pondok Pondok Pesantren Ar-Ruhama, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor, Jamiyah Ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabaroh an-Nahdliyyah (JATMAN) Idaroh Syu’biyah Kota Bogor, dan Majelis Dzikir Sholawat Wal Manaqib Yayasan At-Tawassuth, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor.
Ketua Panitia Pelaksana Kegiatan, Ahmad Fahir mengatakan, kegiatan tersebut digelar sebagai ikhtiar untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan dengan munajat doa untuk Mbah Dalem Batutulis, Eyang Tanujiwa, Eyang Ragamulya Suryakencana, Eyang Rangga Gading, Eyang Sribaduga Maharaja Prabu Siliwangi, dan Eyang Anggalarang.
Selanjutnya, Eyang Purwa Kalih, Eyang Jepra, Eyang Ratu Galuh, Eyang Susuk Tunggal, Eyang Wastu Kancana, Eyang Darmasiksa, Eyang Tarusbawa, Eyang Raksa Bumi, dan Eyang Ciung Wanara.
Sosok Karuhun Sunda, Bukan Keturunan Baklawi
Fahir mengatakan, setiap tahun pihaknya selalu menghelat peringatan haul Mbah Dalem Batutulis, yang dipusatkan di majelis dzikirnya di wilayah Kemang, Kabupaten Bogor, dan telah dilangsungkan sejak tahun 2013.
Untuk peringatan haul tahun ini dilaksanakan pada Jumat 13 Februari 2026, yang dihdiri 60 orang jamaah.
Sedangkan kegiatan pada Sabtu (14/2) bersifat kolaboratif dengan melaksanakan napak tilas secara langsung melalui ziarah ke makam keramat sang tokoh di Kawasan Kabuyutan Batutulis.
Lebih lanjut, mantan Ketua Baraya Kujang Pajajaran (BKP) ini mengungkapkan, Mbah Dalem Batutulis tidak memiliki relasi Sejarah dengan para pendatang Arab yang berasal dari Yaman. Ia sama sekali bukan seorang habib atau yang dikenal dengan marga klan Baklawi.
“Pada Kamis (6/3/2025) lalu ada publikasi di koran harian Bogor, yang mengklaim Mbah Dalem sebagai klan Baklawi bermarga Al-Idrus. Klaim tersebut ngawur dan tidak berdasar sama sekali. Atas dasar logika apapun tertolak,” ujar Fahir.
Dalam babad Pakuan Bogor disebutkan, saat Bupati pertama Bogor, Raden Tanujiwa, seorang menak Sunda Sumedang, cucu raja terakhir Pakuan Pajajaran, Prabu Ragamulya Suryakencana, melakukan ekspedisi k eeks Dayeuh Pakuan Pajajaran di kawasan Batutulis pada akhir tahun 1600-an, telah ditemukan makam Mbah Dalem Batutulis.
Artinya, usia makam tersebut lebih dari 450 tahun. Sedangkan masa hidup sosok tokoh yang dimakamkan lebih dari 500 tahun alias hidup pada era Kerajaan Sunda Pakuan Pajajaran, yang berpusat di Batutulis, Kota Bogor pada tahun 1482-1579.
Menjaga Makam Karuhun Bogor dari Pemalsuan
Mudir Jamiyah Ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabaroh an-Nahdliyyah (JATMAN) Idaroh Syu’biyah Kota Bogor, KH Ahmad Tavip Budiman mengatakan, pihaknya menyerukan kepada masyatrakat Bogor Raya untuk menjaga makam-makam keramat karuhun Sunda yang ada di wilayah bumi Prabu Siliwangi dari upaya pemalsuan yang dilakukan pihak tertentu.
“Kita harus menjaga makam Mbah Dalem Batutulis dari Upaya sistemis pemalsuan Sejarah. Beliau adalah karuhun sepuhnya urang Sunda Bogor yang usianya sudah 500 tahun, bukan pendatang baru dari luar negeri yang baru masuk Bogor 100 tahun terakhir,” ujar Tavip.
Hal sama diutarakan Pengasuh Pesantren Ar-Ruhama Ciomas, KH Saepul Milah. Menurutnya, Mbah Dalem Batutuis adalah sosok karuhn Sunda pituin, alias leluhur sepuhnya urang Bogor.
Setiap tahun ia selalu menziarahi makam Mbah Dalem. Dan secara turun temurun warga Ciomas sejak lama selalu ziarah ke Batutulis, baik saat Lebaran Idul Fitri maupun hari raya besar Islam lainnya.
“Tanggung jawab kita untuk merawat dan melestarikan makam Mbah Dalem, dengan menjaganya dari upaya pemalsuan oleh pihak manapun,” ujarnya.(*)
Editor : Alpin.