RARDAR BOGOR - Memimpin Kota Bogor bukan hal yang mudah bagi Dedie A Rachim. Ada banyak tantangan yang langsung dihadapi Dedie Rachim, saat tongkat komando diterimanya untuk memimpin Kota Bogor.
Dedie dilantik jadi Wali Kota Bogor pada 20 Februari 2025 silam. Hingga saat ini jabatan tersebut sudah melekat pada dirinya selama satu tahun.
Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim mengatakan, saat baru dilantik ia langsung dihadapi dengan kebijakan Inpres nomor 1 tahun 2025.
"Kita diminta efeisiensi. Ada perubahan alokasi anggaran. Yang menurut kita prioritas ternyata menurut pemerintah pusat harus dikoreksi," jelasnya.
Pada akhir tahun 2025 silam Pemkot Bogor juga dihadapkan dengan pemotongan tranfer derah. Bahkan totalnya mencapai Rp300 miliar.
"Itu juga kan tantangan luar biasa. Tetapi harus di jawab dengan optimisme dan kolaborasi dengan semua bidang," jelad Dedie pada awak media.
Tantangan berikutny adalah masalah birokrasi, antara daeah, provinsi dan pusat. Bagi Dedie semua wilayah mengalami nasib serupa.
Beberapa persoalan kerap terbentur dengan kewenangan. Misalnya penanganan jalan rusak. Dedie menyebut pihaknya tidak bisa sembrangan untuk memperbaiki
"Jadi kalaupun ada keterlambatan itu hanya situasi dan kondisi saja. Misalnya material belum cukup itu hal-hal yang diluar kendali kita," tegasnya
Masalah birokrasi berikutya adalah penanganan Jalan Batutulis. Bagi Dedie ini tidak mudah.
Proses pembagian tugas antara pemkot dan pemprov membuat pembangunan terkesan lambat.
"Kita sudah bebaskan melalui APBD 2025 lalu, tinggal dibangunakan kontruksinya oleh Pemprov," ujar Dedie.
Calon lahan trase baru Batutulis sendiri berada di Kecamatan Bogor Selatan. Pembangunan jalan ditargetkan sepanjang 250 meter dengan ROW 8-18 meter.
Lahan tersebut semula dimiliki oleh 3 warga. Luasnya mencapai 4.711 meter. Biaya yang dikeluarkan Pemkot Bogor untuk pembebasan lahan mencapai Rp19,991.500.000.(bay)
Editor : Alpin.