Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Jadi Alat Bertani hingga Simbol Kepemimpinan, ICMI Kota Bogor Gaungkan Golok Nusantara Menuju Pengakuan UNESCO

Fikri Rahmat Utama • Sabtu, 21 Februari 2026 | 18:49 WIB

Kegiatan Literasi Golok dan Pusaka Indonesia yang digelar BIIFEST 2026.
Kegiatan Literasi Golok dan Pusaka Indonesia yang digelar BIIFEST 2026.

RADAR BOGOR – Upaya mendorong golok sebagai warisan budaya tak benda dunia terus digaungkan.

ICMI Orda Kota Bogor menggelar kegiatan Literasi Golok dan Pusaka Indonesia di Botani Square, Sabtu 21 Februari 2026 untuk memperkuat kesadaran publik sekaligus membuka jalan menuju pengakuan UNESCO.

Dalam forum tersebut, Dewan Pembina Komunitas Golok Pedang Sepuh Nusantara (GPSN), Gatut Susanta, memaparkan bahwa istilah golok telah tercatat dalam naskah kuno Sanghyang Siksa Kandang Karesian tahun 1518 Masehi.

Menurutnya, dalam kutipan naskah itu disebutkan berbagai senjata kerajaan, termasuk golok, yang menunjukkan eksistensi golok sudah mengakar kuat dalam peradaban Nusantara.

“Secara arkeologis, golok dan pedang indah di Nusantara bahkan sudah ada sejak abad ke-6, salah satunya ditemukan pada masa Buni di situs Batujaya,” ujarnya.

Ia menjelaskan, secara struktur golok terdiri dari tiga bagian utama, yakni gagang, bilah, dan serangka (sarung).

Pada golok Pasundan, detail bilah memiliki penamaan khusus seperti punggung, jegongan, congo, mata, hingga buntut, yang masing-masing sarat makna filosofis.

Gatut menegaskan, fungsi golok tidak semata sebagai senjata. Dalam sejarahnya, golok digunakan mulai dari alat pertanian hingga simbol kepemimpinan bagi para bangsawan dan calon raja.

“Filosofi utamanya tajam di depan. Artinya seorang pendekar harus berani berada di garis terdepan,” katanya.

Ia juga mengungkap sejumlah tokoh perjuangan Nusantara identik dengan penggunaan golok atau parang, mulai dari Soekarno, Si Pitung, hingga Tuanku Imam Bonjol.

Selain itu, Gatut menyebut kualitas perajin golok lokal tidak kalah dari luar negeri. Bahkan, sejumlah duplikat pedang tokoh Islam yang beredar di pasar internasional disebut diproduksi oleh perajin di Sukabumi.

Sementara itu, tokoh Bogor, Guntur Santoso, menekankan pentingnya pelestarian budaya sebagai syarat utama pengakuan UNESCO.

Menurutnya, lembaga dunia tersebut hanya akan mengakui warisan budaya yang masih hidup dan diapresiasi masyarakat.

“UNESCO tidak melihat hanya benda lama. Yang dilihat adalah apakah budaya itu masih dirawat dan dimanfaatkan hari ini,” ujarnya.

Ia mengajak masyarakat untuk mulai mengapresiasi golok sebagai bagian dari identitas budaya, minimal dengan memiliki dan merawatnya di rumah, baik untuk fungsi praktis maupun simbolis.

“Kita tidak diminta menciptakan, tetapi melestarikan. Mari cintai warisan ini agar sejajar dengan keris dan batik,” tutupnya. (uma)

Editor : Yosep Awaludin
#icmi #unesco #golok