RADAR BOGOR - Di tanah Nusantara, golok bukan sekadar bilah besi.
Ia adalah pakakas (alat kerja) sekaligus pakarang (alat menjaga diri).
Ia menemani petani di ladang, perajin di kebun, hingga menjadi bagian dari tradisi masyarakat Sunda, Betawi, dan Banten.
Golok yang ditempa dengan baik bahkan bisa bertahan puluhan hingga ratusan tahun.
Ia diwariskan, dirawat, diasah, dan terus memberi manfaat lintas generasi.
Di sinilah kita menemukan titik temu yang indah dengan wakaf.
Wakaf: Mengabadikan Manfaat
Dalam fikih, wakaf adalah: “Menahan pokok harta dan mengalirkan manfaatnya.” Pokoknya tetap.
Manfaatnya berjalan. Tanah wakaf bisa dipakai ratusan tahun.
Sumur wakaf bisa mengalir sepanjang zaman.
Dan ternyata golok pun memiliki karakter yang sama.
Ia adalah benda tahan lama.
Jika dirawat dengan baik, ia bisa terus digunakan untuk kemaslahatan.
Maka ketika golok diwakafkan, yang terjadi adalah: Besinya tetap.
Manfaatnya mengalir. Pahalanya berulang.
Wakaf Golok untuk Kurban dan Aqiqah
Setiap tahun, umat Islam melaksanakan ibadah kurban.
Di momen itu, penyembelihan membutuhkan alat yang layak, tajam, dan sesuai syariat. Bayangkan jika sebuah masjid atau mushola memiliki:
- Golok wakaf khusus untuk kurban
- Golok wakaf untuk akikah
- Golok wakaf untuk penyembelihan hewan harian
Setahun sekali kurban. Beberapa kali akikah. Berkali-kali kegiatan sosial.
Setiap kali digunakan untuk penyembelihan yang halal dan sesuai syariat, manfaatnya mengalir kepada pewakaf. Goloknya mungkin hanya satu.
Namun pahala penggunaannya bisa berulang-ulang.
Wakaf Golok sebagai Edukasi dan Identitas Budaya
Wakaf golok bukan sekadar menyediakan alat. Ia juga menjadi sarana edukasi:
- Mengajarkan bahwa wakaf tidak terbatas pada tanah dan bangunan.
- Menghidupkan kesadaran bahwa budaya Nusantara bisa selaras dengan syariat.
- Menghargai karya pandai besi lokal sebagai bagian dari ekonomi umat.
Golok adalah hasil peradaban. Ia lahir dari kearifan lokal, teknik metalurgi tradisional, dan nilai-nilai masyarakat.
Ketika golok dijaga melalui wakaf, maka yang dijaga bukan hanya benda, tetapi juga identitas.
Golok Road to UNESCO: Wakaf sebagai Fondasi Peradaban
Hari ini, para tokoh budayawan Bogor melakukan Talkshow Literasi Golok di acara BIIFest yang diakan ICMI Orda Kota Bogor di Botani Square.
Menghadirkan tokoh Bogor diantaranya Ki Gatut Susanta, Suhu Guntur, dimoderatori Kang Harlan.
Talkshow menarik mengenai literasi golok dan upaya Ki Susanta menawa golok agar diakui sebagai Warisan Budaya Dunia melalui jalur Intangible Cultural Heritage UNESCO sebuah gerakan yang diberi nama: Golok Road to UNESCO.
Pengakuan dunia tidak lahir dari seremoni semata. Ia lahir dari:
- Bukti bahwa tradisi itu masih hidup.
- Bukti bahwa ia digunakan dalam kehidupan nyata.
- Bukti bahwa masyarakatnya menjaga dan merawatnya.
Menurut kami di sinilah wakaf memiliki peran strategis. Wakaf golok:
- Menunjukkan bahwa golok bukan benda mati museum, tetapi alat hidup yang bermanfaat.
- Menjadi bukti keberlanjutan tradisi.
- Menguatkan ekosistem perajin dan pengguna.
Jika golok hanya dipamerkan, ia menjadi artefak. Namun jika golok terus digunakan untuk ibadah, pendidikan, dan kemaslahatan, ia menjadi tradisi hidup. Dan UNESCO menilai tradisi yang hidup.
Warisan Ratusan Tahun, Pahala Lintas Generasi
Golok tradisional yang baik bisa diwariskan dari kakek ke cucu.
Begitu pula wakaf ia dirancang untuk lintas generasi. Ketika keduanya dipertemukan, kita sedang:
- Menjaga warisan budaya Nusantara
- Menguatkan fungsi ibadah
- Mendukung pengakuan global
- Mengalirkan pahala jariyah
Sebuah golok wakaf yang digunakan setiap Idul Adha selama 50–100 tahun, bukan hanya menjadi saksi ibadah, tetapi juga saksi peradaban.
Batasan Syariah
Tentu niat dan penggunaannya harus jelas:
- Untuk ibadah dan kemaslahatan
- Untuk penyembelihan sesuai syariat
- Untuk edukasi dan pelestarian budaya
- Bukan untuk kekerasan atau konflik
Karena yang kita jaga adalah nilai manfaat dan kehormatan warisan.
Penutup: Golok Dari Warisan Nusantara Menuju Kebadiaan Kebaikan
Wakaf golok adalah ikhtiar kecil dengan dampak besar: menjaga warisan Nusantara sekaligus menanam pahala yang tak terputus.
Sebilah golok yang kokoh bisa bertahan puluhan bahkan ratusan tahun sebagaimana wakaf yang menahan pokok dan mengalirkan manfaatnya.
Ketika golok diwakafkan untuk masjid, Rumah Qur’an, dan pesantren, ia tak lagi sekadar besi, melainkan saksi ibadah: setiap takbir Idul Adha, setiap kurban dan akikah yang ditunaikan sesuai syariat, setiap praktik fiqih yang dipelajari santri.
Dari satu bilah, lahir ribuan manfaat. Dari satu niat, mengalir pahala jariyah lintas generasi.
Inilah cara sederhana namun mulia: merawat tradisi, menguatkan ibadah, dan mengabadikan kebaikan dalam denyut peradaban nusantara. (*)
Ahmad Alam
Pembina RQ. Mafaatihul Jaariyah/ Pesantren Mahasiswa Global Leadership
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim