Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Survei Setahun Kepemimpinan Dedie Rachim–Jenal Mutaqin: Kepuasan Pendidikan Tembus 84,75 Persen, Lingkungan 70,25 Persen

Muhammad Ali • Rabu, 25 Februari 2026 | 20:56 WIB

Founder Lembaga Studi Visi Nusantara (LS Vinus), Yusfitriadi.
Founder Lembaga Studi Visi Nusantara (LS Vinus), Yusfitriadi.

RADAR BOGOR - Memasuki satu tahun masa kerja Wali Kota Bogor, Dedie Rachim, bersama Wakil Wali Kota Jenal Mutaqin, tingkat kepuasan masyarakat menunjukkan tren positif.

Hasil survei terbaru menempatkan sektor pendidikan sebagai bidang dengan apresiasi publik tertinggi, disusul tata kelola lingkungan.

Setahun kepemimpinan Dedie Rachim dan Jenal Mutaqin di Kota Bogor mencatat capaian menggembirakan.

Berdasarkan survei LS Vinus, kepuasan masyarakat terhadap sektor pendidikan mencapai 84,75 persen.

Sementara itu, tata kelola lingkungan berada di posisi kedua dengan angka 70,25 persen.

Founder Lembaga Studi Visi Nusantara (LS Vinus), Yusfitriadi menilai, tingginya tingkat kepuasan di bidang pendidikan tidak terlepas dari sejumlah program strategis yang dijalankan pemerintah daerah.

Ia menjelaskan, terdapat tiga faktor utama yang mendorong lonjakan kepuasan publik di sektor tersebut, yakni pembangunan unit Sekolah Menengah Pertama (SMP), penyediaan program beasiswa, serta karakteristik masyarakat Kota Bogor yang relatif berada pada kategori menengah ke atas dan memiliki kepedulian tinggi terhadap isu pendidikan.

Menurutnya, kombinasi ketiga aspek tersebut berdampak signifikan terhadap persepsi positif warga hingga menyentuh angka 84,75 persen.

Di sisi lain, sektor tata kelola lingkungan mencatat tingkat kepuasan 70,25 persen.

Capaian ini dinilai sejalan dengan penghargaan yang baru diraih Kota Bogor dalam kategori kota menuju bersih.

Yusfitriadi berpandangan, terdapat dua program dominan yang memperkuat persepsi publik terhadap kinerja lingkungan.

Pertama, intensifikasi pembenahan sistem drainase yang saat ini tengah digencarkan pemerintah kota dan dinilai langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Kedua, upaya penataan pengelolaan sampah pasar yang kini menjadi fokus kebijakan.

“Faktor pertama adalah program pembangunan SMP, kedua adanya program beasiswa, dan ketiga kultur masyarakat Kota Bogor yang cenderung menengah ke atas dalam hal kepedulian terhadap pendidikan, sehingga paham betul apa yang menjadi persoalan di sektor ini,” ujarnya kepada Radar Bogor, Rabu 25 Februari 2026.

Meski program konversi sampah menjadi energi terbarukan belum sepenuhnya terealisasi, ia menilai gagasan tersebut merupakan langkah progresif dalam menjawab persoalan mendasar kota.

Ia memaparkan, sumber utama timbulan sampah di Kota Bogor berasal dari tiga sektor terbesar, yakni pasar, hotel, dan restoran.

Sementara kontribusi sampah dari rumah tangga masyarakat umum disebut hanya sekitar 14 persen.

Dengan demikian, kebijakan yang menitikberatkan pada penanganan sampah di sektor-sektor tersebut, termasuk dorongan terhadap konsep waste to energy, dianggap relevan dan tepat sasaran.

Menurutnya, arah kebijakan tersebut selaras dengan ekspektasi masyarakat, sehingga berkontribusi pada tingginya tingkat kepuasan publik di bidang lingkungan.

“Saya pikir sekarang drainase sedang kuat dan gencar dilakukan, itu berpengaruh dan sangat dirasakan oleh masyarakat,” jelasnya.

Penghargaan yang diterima Kota Bogor pun dinilai konsisten dengan hasil survei yang menunjukkan angka kepuasan 70,25 persen dalam tata kelola lingkungan. (cr1)

Editor : Siti Dewi Yanti
#kota bogor #LS Vinus #pendidikan #Jenal Mutaqin #Dedie Rachim