RADAR BOGOR - Kasus HIV di Kota Bogor masih menjadi perhatian serius. Sepanjang 2025, tercatat 399 kasus baru, dengan 137 di antaranya telah masuk stadium AIDS.
Kondisi ini mendorong Dinas Kesehatan Kota Bogor memperkuat strategi penanggulangan guna menekan penularan sekaligus meningkatkan pengobatan bagi orang dengan HIV (ODHIV).
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, dr Erna Nuraena, menjelaskan bahwa penanggulangan HIV harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pencegahan, deteksi dini, hingga pengobatan berkelanjutan.
“Penanggulangan HIV tidak bisa dilakukan secara parsial. Kami memperluas layanan, memperkuat koordinasi, serta memastikan ODHIV mendapatkan pengobatan dan pendampingan hingga mencapai supresi viral load,” ujarnya.
Hingga 2025, sebanyak 3.857 ODHIV di Kota Bogor telah ditemukan dan masih hidup atau sekitar 63 persen dari target pilar pertama HIV.
Dari jumlah tersebut, 2.436 orang atau 85 persen telah menjalani terapi antiretroviral (ARV). Sementara itu, 1.914 orang atau 79 persen telah mencapai supresi viral load.
Untuk mempercepat capaian tersebut, Dinkes Kota Bogor telah menerapkan lima strategi utama pada 2025. Pertama, memperluas layanan konseling dan tes HIV.
Kemudian layanan Pre Exposure Prophylaxis (PrEP) serta layanan Perawatan, Dukungan, dan Pengobatan (PDP) di fasilitas kesehatan pemerintah dan swasta agar akses semakin mudah dijangkau masyarakat.
Kedua, melakukan pemantauan pemeriksaan viral load setiap minggu sebagai monitoring rutin terhadap ODHIV yang menjalani terapi ARV.
Ketiga, memperkuat peran Komisi Penanggulangan AIDS untuk meningkatkan koordinasi dan sinergi lintas di berbagai sektor.
Keempat, mengintensifkan koordinasi bulanan bersama komunitas penjangkau dan pendamping sebaya guna menjangkau kelompok berisiko tinggi serta mencegah putus pengobatan.
Kelima, menggencarkan sosialisasi pencegahan HIV di sekolah-sekolah sebagai bagian dari edukasi kesehatan reproduksi bagi pelajar dan mahasiswa.
Selain strategi tersebut, Dinkes juga meluncurkan dua inovasi layanan kesehatan. Pertama, program Percepatan Triple Eliminasi kepada Ibu Hamil di Layanan Jejaring (PINK MANJA)
Program ini bertujuan memastikan 100 persen ibu hamil menjalani skrining HIV, sifilis, dan hepatitis B melalui kerja sama Puskesmas dengan fasilitas kesehatan jejaring, termasuk klinik swasta dan bidan praktik mandiri.
“Langkah ini difokuskan untuk mencegah penularan dari ibu ke anak atau mother-to-child transmission (MTCT),” terag Erna.
Kedua, inovasi Go and Head to Viral Load (GO AHEAD VL) yang bertujuan mempercepat pemeriksaan viral load melalui sistem pengingat aktif oleh petugas layanan PDP bersama pendamping sebaya.
ODHIV dihubungi dan dijadwalkan untuk melakukan tes sesuai waktu yang ditentukan, dengan target 95 persen pasien terapi ARV mencapai supresi viral load.
Dari sisi fasilitas, Kota Bogor memiliki 59 layanan tes dan konseling HIV/IMS yang tersebar di 25 puskesmas, 22 rumah sakit, 11 klinik swasta, serta satu fasilitas lainnya.
“Untuk pengobatan ARV tersedia 41 layanan PDP, sementara layanan PrEP telah tersedia di seluruh 25 puskesmas,” ungkap Erna pada Radar Bogor, Kamis (26/2/2026).
Meski demikian, Erna mengakui masih terdapat sejumlah tantangan, di antaranya rendahnya pengetahuan masyarakat tentang HIV, stigma dan diskriminasi terhadap ODHIV, serta tren peningkatan kasus pada kelompok usia remaja.
Karena itu, Dinkes mengajak seluruh elemen masyarakat untuk meningkatkan pemahaman tentang HIV, berani melakukan tes jika memiliki faktor risiko, menghentikan stigma dan diskriminasi, serta mendukung program pencegahan, termasuk triple eliminasi bagi ibu hamil.
“Ingat, HIV bisa dikendalikan. Dengan pengobatan ARV rutin, ODHIV dapat hidup sehat, produktif, dan tidak menularkan virus. Cegah HIV, dukung sesama, dan stop diskriminasi. Penanggulangan HIV adalah tanggung jawab bersama,” pungkasnya. (bay)
Editor : Yosep Awaludin