Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Produksi Ratusan Telur per Hari, Program Ayam Petelur di Kota Bogor Berpotensi Raup Puluhan Juta per Bulan

Fikri Rahmat Utama • Kamis, 26 Februari 2026 | 11:41 WIB

Aktivitas peternakan ayam petelur milik KTD Berkah Tani Mekarwangi di Kelurahan Mekarwangi, Tanah Sareal, Kota Bogor, Kamis 26 Februari 2026.
Aktivitas peternakan ayam petelur milik KTD Berkah Tani Mekarwangi di Kelurahan Mekarwangi, Tanah Sareal, Kota Bogor, Kamis 26 Februari 2026.

RADAR BOGOR – Program peternakan ayam petelur yang digulirkan di Kota Bogor mulai menunjukkan hasil menjanjikan.

Setiap lokasi peternakan ayam petelur diproyeksikan mampu memproduksi hingga 500-an butir telur per hari atau setara sekitar 30 kilogram.

Salah satu lokasi peternakan ayam petelur berada di Kelurahan Mekarwangi, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor yang saat ini dikelola Kelompok Tani Dewasa (KTD) Berkah Tani Mekarwangi. Anggota KTD merupakan warga sekitar yang berjumlah sekitar 15 orang.

Program ini merupakan bagian dari upaya pemerintah mendorong kemandirian pangan sekaligus meningkatkan konsumsi protein hewani masyarakat. Setiap harinya potensi omzet mencapai Rp840 ribu atau sekitar Rp25 jutaan per bulan.

Kepala Bidang Peternakan DKPP Kota Bogor, drh. Anizar, menjelaskan inisiatif tersebut berasal dari program hibah Kementerian Pertanian.

Bantuan diberikan kepada 10 kelompok tani di Kota Bogor dalam bentuk paket lengkap budidaya ayam petelur.

“Setiap kelompok menerima 600 ekor ayam petelur siap produksi (pullet usia 16 minggu), kandang lengkap, pakan untuk tiga bulan, serta obat-obatan dan vitamin,” ujar Anizar, Kamis 26 Februari 2026.

Ia merinci, distribusi bantuan tersebar di hampir seluruh wilayah Kota Bogor, kecuali Kecamatan Bogor Tengah.

Contohnya di Bogor Utara terdapat satu kelompok, tiga kelompok di Bogor Timur, satu kelompok di Bogor Selatan, satu kelompok di Tanah Sareal, dan satu kelompok di Bogor Barat.

Menurutnya, ayam bantuan tersebut sudah mulai berproduksi sejak November lalu. Saat ini, rata-rata produksi di tiap lokasi telah menembus lebih dari 500 butir per hari dari total populasi 600 ekor, dengan masa produktif yang diperkirakan dapat bertahan hingga dua tahun.

Anizar menegaskan, program ini merupakan pemberdayaan masyarakat murni. Seluruh aset dan keuntungan sepenuhnya menjadi milik kelompok tani pengelola tanpa kewajiban setoran kepada pemerintah.

“Pemerintah hanya membina agar usaha ini berkelanjutan. Harapannya ekonomi masyarakat bawah bisa tumbuh dan Kota Bogor perlahan mandiri memenuhi kebutuhan telur,” jelasnya.

Ia menambahkan, hasil produksi telur saat ini difokuskan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat sekitar. Sebagian kelompok juga mulai menyalurkan telur ke program MBG setempat.

Sementara itu, mewakili KTD Berkah Tani Mekarwangi, Muhammad Husnul Hakim mengaku program tersebut memberi dampak langsung bagi peningkatan pendapatan sekaligus pengetahuan anggota kelompok.

Menurut Husnul, mayoritas anggota baru pertama kali mengelola peternakan ayam petelur sehingga mereka menerapkan metode belajar sambil praktik (learning by doing).

Tantangan terbesar sejauh ini berada pada pengelolaan kotoran ayam agar tidak memicu lalat dan belatung.

“Kalau untuk pakan dan vitamin relatif mudah karena sudah ada petunjuk teknis. Tantangan terbesar justru di manajemen limbah kotoran,” ungkapnya.

Untuk menjaga stabilitas produksi, pengelolaan harian kandang saat ini dipercayakan kepada dua orang secara penuh.

Langkah tersebut dilakukan untuk meminimalkan stres pada ayam akibat terlalu banyak aktivitas manusia di sekitar kandang.

Rutinitas pemeliharaan dilakukan secara disiplin, mulai dari pemberian pakan dan vitamin setiap pagi dan sore, penyediaan air minum yang mengalir nonstop, hingga menjaga pencahayaan kandang minimal 14 jam per hari menggunakan lampu tambahan hingga pukul 20.00 WIB.

Husnul menyebutkan, telur dipanen setiap sore dengan capaian rata-rata 500–530 butir atau sekitar 30 kilogram per hari. Produksi tersebut dinilai sudah cukup optimal untuk tahap awal.

Seiring pertumbuhan ayam yang kini memasuki usia 26 minggu, kelompok juga menghadapi dinamika teknis di lapangan. Ukuran tubuh ayam yang semakin besar membuat ruang gerak di kandang terasa lebih sempit.

“Memang ada kejadian kecil yang wajar, seperti satu ayam mati terinjak dan satu terjepit. Tapi secara umum angka kematian sangat minim dan produksi tetap stabil,” tuturnya.

Ke depan, Husnul berharap program bantuan produktif seperti ini dapat diperluas agar semakin banyak kelompok tani yang merasakan manfaat ekonomi.

Dengan tren produksi yang terus meningkat, program ayam petelur ini dinilai berpotensi menjadi salah satu penggerak ekonomi kerakyatan sekaligus memperkuat ketahanan pangan Kota Bogor dari sektor protein hewani. (uma)

Editor : Yosep Awaludin
#kota bogor #Tanah Sareal #Ayam petelur