RADAR BOGOR – Kasus suspek campak di Kota Bogor meningkat pada 2025. Dinas Kesehatan mencatat sebanyak 1.454 kasus suspek campak terjadi sepanjang tahun lalu.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, dr Erna Nuraena, mengatakan peningkatan kasus campak mulai terlihat sejak pertengahan tahun dan mencapai puncaknya pada akhir 2025.
“Tren peningkatan mulai terlihat sejak Juli dan puncak kasus campak terjadi pada Desember 2025 dengan jumlah sekitar 470 kasus,” kata Erna pada Radar Bogor, Kamis 5 Maret 2026.
Ia menjelaskan, peningkatan kasus campak di Kota Bogor juga sejalan dengan tren yang ada di tingkat Provinsi Jawa Barat. Bahkan totalnya tembus 17.388 kasus.
Data didapat dari surveilans SKDR tahun 2025. Di tingkat Jabar, peningkatan campak mulai terhadi sejak April dan puncaknya pada Desember dengan 3.470 kasus.
Sementara itu, jika melihat data kasus terkonfirmasi dalam tiga tahun terakhir, Kota Bogor mengalami fluktuasi. Pada 2023 tercatat 380 kasus campak terkonfirmasi.
Datanya kemudian mengalami penururnan drastis menjadi 5 kasus pada 2024, namun kembali meningkat menjadi 31 kasus pada 2025.
Memasuki 2026, tren suspek campak di Kota Bogor masih relatif stagnan. Hingga minggu ke-7 tercatat rata-rata sekitar 186 kasus suspek per minggu dengan puncak kasus pada minggu ke-4 sebanyak 233 kasus.
Meski demikian, cakupan imunisasi campak-rubela (MR) di Kota Bogor sebenarnya telah melampaui target nasional.
Pada 2023 cakupan imunisasi mencapai 97,5 persen, meningkat menjadi 101,8 persen pada 2024, dan berada di angka 98,3 persen pada 2025.
Menurut Erna, peningkatan suspek dan kasus terkonfirmasi menunjukkan masih adanya kantong populasi yang belum terlindungi secara optimal oleh imunisasi.
“Hal ini menjadi salah satu dasar penetapan Kota Bogor sebagai salah satu dari 100 kabupaten atau kota yang akan melaksanakan Catch Up Campaign imunisasi kejar campak-rubela pada 2026,” jelasnya.
Program imunisasi kejar tersebut rencananya akan dilaksanakan pada Maret 2026 dengan sasaran anak usia 9–59 bulan.
Pelaksanaannya dilakukan di berbagai titik pelayanan seperti PAUD, TK, puskesmas, posyandu, tempat ibadah, hingga melalui kegiatan sweeping dari rumah ke rumah.
“Target cakupan minimalnya 95 persen agar kekebalan kelompok atau herd immunity dapat kembali optimal,” tambah Erna dalam keterangan tertulisnya.
Selain menyiapkan program imunisasi kejar, Dinas Kesehatan Kota Bogor juga memperkuat sistem pelaporan harian kasus campak dari puskesmas dan rumah sakit.
Kemudian melakukan penyelidikan epidemiologi pada setiap kasus suspek, serta memastikan tatalaksana pasien sesuai standar termasuk pemberian vitamin A.
Dinkes juga mengimbau masyarakat, khususnya orang tua dan pengasuh balita, untuk segera melengkapi imunisasi dasar dan lanjutan anak di fasilitas kesehatan terdekat.
Masyarakat juga diminta mewaspadai gejala campak seperti demam disertai ruam merah, batuk, pilek, serta mata merah atau berair.
Jika gejala tersebut muncul, anak disarankan segera dibawa ke fasilitas kesehatan dan melakukan isolasi di rumah untuk mencegah penularan lebih lanjut. (bay)
Editor : Yosep Awaludin