RADAR BOGOR – Mahasiswa Universitas Pakuan (Unpak) Bogor perhatian terhadap pengelolaan sampah organik. Maka dari itu, munculah sebuah inovasi mereka.
Mahasiswa Unpak Bogor perhatian terhadap penumpukan sampah yang ada di Kelurahan Cilendek Timur.
Sekelompok mahasiswa Unpak Bogor yang tergabung dalam tim Maggovision mengusung SIMORA (Smart IoT Maggot App for OrganicRecycling and Advancement) berhasil menghadirkan solusi inovatif yang menggabungkan bio konversi Black Soldier Fly (BSF) atau maggot dengan teknologi Internet of Things (IoT).
Berkompetisi dalam ajang bergengsi 6th Innovillage 2025, tim yang beranggotakan Rifli Ramadhan Sabililah (Manajemen) sebagai Ketua, Nazla Primanita Gunawan (Bisnis Digital) sebagai anggota 1, dan Vira Haura Fauziyah (Farmasi) sebagai anggota 2, terus mengebut implementasi program dari Desember 2025 hingga Februari 2026.
Proyek ini juga didukung oleh barisan volunteer mahasiswa: Novia Handayani (Akuntansi), Adiva Crestoriena P. F, Kayla Shanaya Permana, Nayla Azakiya, Felicia Dewi Harjono, dan Syakila Desti Perianto (keseluruhannya dari Bisnis Digital).
Langkah awal SIMORA dimulai pada Desember 2025 dengan pemetaan, perancangan aplikasi, hingga koordinasi intensif bersama pemerintah Kelurahan Cilendek Timur.
Memasuki bulan Januari 2026, tim mulai merealisasikan pembangunan fisik "Rumah Maggot BSF" secara gotong royong dengan melibatkan masyarakat sekitar.
Untuk memastikan keberhasilan budidaya, tim SIMORA bahkan melakukan studi banding ke Bumi Farm di Cipaku pada 28 Januari 2026.
Di akhir bulan, uji coba awal budidaya maggot secara manual mulai dilakukan sebagai langkah pemanasan sebelum sistem IoT diterapkan sepenuhnya.
Februari menjadi titik puncak implementasi nyata di lapangan. Pada 7 Februari 2026, SIMORA secara resmi disosialisasikan kepada Kelompok Wanita Tani (KWT) Sedap Malam dan warga RW 03 Cilendek Timur.
Warga diajarkan cara membuat akun dan menggunakan aplikasi SIMORA untuk menyetorkan sampah organik mereka.
Kegiatan ini dihadiri oleh lebih dari 20 warga, serta turut mengundang Kepala Kelurahan (diwakili oleh Sekretaris Lurah), Ketua RW. 03, dan Ketua RT. 03 Cilendek Timur, Bogor Barat, Kota Bogor.
Sebagai dukungan dari Universitas Pakuan, kegiatan sosialisasi dan implementasi SIMORA juga dihadiri oleh Pusat Inovasi dab Inkubator Bisnis, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Dosen Pendamping tim Abel Gandhy, Ketua Program Studi Bisnis Digital, Manajemen, dan Akuntasi.
Dukungan ini semakin memperkuat hubungan SIMORA agar dapat diterapkan secara optimal. Dengan mengusung konsep Penta Helix yakni keterkaitan antara universitas, masyarakat, pemerintahan, bisnis, dan media membuat SIMORA tidak hanya sekadar inovasi lomba, tetapi sebagai bukti nyata bahwa ini merupakan langkah untuk peduli lingkungan.
Sistem SIMORA menghadirkan inovasi "Setor Sampah Digital". Melalui aplikasi yang terintegrasi dengan timbangan load cell, berat sampah organik yang disetor warga otomatis tercatat di aplikasi tanpa perlu input manual dari operator. Sebagai gantinya, warga mendapatkan poin digital.
Antusiasme warga Cilendek Timur terbukti sangat tinggi. Pada periode setor sampah pada 14 Februari 2026, warga secara sadar mengumpulkan hingga 3-7 kg sampah organik perorangnya dalam satu hari.
Secara keseluruhan pada pertengahan Februari, total sampah organik yang berhasil dikumpulkan warga hampir mencapai 32 kilogram.
Karena poin yang terkumpul belum cukup untuk ditukarkan dengan sembako pada fase awal ini, tim SIMORA memberikan simbol keberlanjutan yaitu berupa ember baru agar warga semakin semangat memilah sampah dari rumah.
Baca Juga: Ratusan Masjid di Jawa Barat Disulap Kementerian Agama Jadi Posko Mudik Lebaran Tahun Ini
Kehadiran inovasi ini mendapat sambutan hangat dan respon positif dari warga setempat. Rahma dan Yuli, warga RW 03 Cilendek Timur, mengungkapkan bagaimana SIMORA langsung berdampak pada kebiasaan rumah tangga mereka.
“Dampaknya positif banget. Awalnya di rumah kan kita buang sampah tuhsembarangan, disatu-satukan. Setelah ada SIMORA, kita bisa memilah sampah, dan yang jelas di rumah tuh bebas sampah, alhamdulillah,” ungkap salah satu warga.
Selain membuat lingkungan bersih, SIMORA juga menjadi sarana edukasi teknologi bagi ibu-ibu rumah tangga. Meski pada awalnya warga harus beradaptasi melakukan pendekatan dan terdapat kekhawatiran terkait penggunaan gawai (gaptek), sistem ini berhasil mengubah cara pandang mereka terhadap teknologi.
Perjalanan implementasi tentu tidak lepas dari tantangan. Pada pengujian awal, pembacaan sensor gas amonia pada kandang maggot sempat tidak stabil.
Namun, tim bergegas melakukan evaluasi, menyesuaikan posisi sensor, dan menggantinya dengan sensor yang lebih akurat.
Di sisi budidaya, maggot yang diternakkan telah sukses memasuki fase prepupahingga menjadi BSF.
Saat menghadapi kendala seperti serangan hama (semut dan tikus) serta media pakan yang terlalu basah, tim SIMORA dengan sigap meninggikan wadah rak, menyesuaikan takaran pakan, dan mengubah desain kandang dari vertikal menjadi horizontal menggunakan kotak container (CB 195 L) agar lebih optimal.
Dengan jadwal yang akan difinalisasi pada bulan Maret, fokus SIMORA saat ini adalah membangun kemandirian operasional di masyarakat. Kini warga dapat menggunakan sistem setor sampah mandiri secara efisien, dan jadwal budidaya maggot pun menjadi jauh lebih teratur.
Inovasi SIMORA bukan sekadar tentang alat canggih, melainkan tentang membangun ekosistem sirkular.
Sampah yang dulunya tak berguna, kini dikonversi menjadi pakan ikan berkualitas dari maggot dan pupuk organik dari kasgot. Melalui kolaborasi Pentahelix yang kuat antara mahasiswa, warga, akademisi, dan pemerintah daerah, SIMORA optimis dapat mereplikasi model keberlanjutan ini.
Editor : Rani Puspitasari Sinaga