RADAR BOGOR – Pemkot Bogor mencatat inflasi tahunan (year-on-year/y-o-y) sebesar 4,89 persen menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah. Kenaikan ini dipicu oleh sejumlah komponen, terutama tarif listrik dan harga emas global.
Kepala Bagian Perekonomian Setda Kota Bogor, Dewi Kurniasari, menjelaskan bahwa inflasi tertinggi berasal dari kelompok administered price dan core inflation.
“Tarif listrik memberikan andil terhadap inflasi yakni sebesar 2,11 persen, sementara harga emas global menyumbang 0,91 persen,” ujarnya, Selasa 17 Maret 2026.
Meski demikian, inflasi dari kelompok volatile food atau bahan pangan bergejolak diperkirakan hanya sekitar 1,5 persen.
Angka ini masih berada di bawah target inflasi Pemerintah Provinsi Jawa Barat maupun nasional yang berada di kisaran 1,5 hingga 3,5 persen.
Dewi menyebutkan, terdapat lima komoditas utama yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi di Kota Bogor, yakni emas, cabai rawit, bawang merah, cabai merah, dan daging ayam.
Menurutnya, kenaikan harga komoditas tersebut dipengaruhi oleh menurunnya ketersediaan di tingkat produsen karena belum memasuki masa panen.
Selain itu, faktor cuaca yang kurang mendukung juga menyebabkan sebagian komoditas mengalami kerusakan serta menghambat distribusi. “Sehingga pasokan di pasar berkurang dan berdampak pada kenaikan harga,” jelasnya.
Untuk mengendalikan inflasi, Pemkot Bogor telah melakukan berbagai langkah strategis. Di antaranya menggelar High Level Meeting kesiapsiagaan menjelang Ramadhan dan Idul Fitri, serta melaksanakan Gerakan Pangan Murah dan Pasar Murah sebanyak 63 kali.
Selain itu, pemerintah juga menerbitkan surat imbauan kepada vendor agar menjual komoditas yang mengalami kenaikan harga, serta mengedukasi masyarakat agar berbelanja secara bijak.
Upaya lain dilakukan melalui inspeksi mendadak (sidak) pasar bersama Wali Kota Bogor, Badan Pangan Nasional (Bapanas), DPR RI Komisi IX, serta dinas terkait untuk menjaga stabilitas harga.
Pemantauan ketersediaan bahan pokok, BBM, dan LPG juga terus dilakukan. Pemerintah turut menggulirkan Operasi Pasar Bersubsidi (OPADI) dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat, serta sosialisasi pengendalian inflasi melalui siaran RRI Kota Bogor.
“Langkah-langkah ini diharapkan mampu menjaga stabilitas harga dan memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi menjelang Lebaran,” tutup Dewi. (uma)
Editor : Yosep Awaludin