RADAR BOGOR – Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim menyebut ada rencana penerapan kerja dari rumah atau work from home (WFH) pasca Lebaran 2026, kebijakan tersebut sebagai tindak lanjut dampak dinamika geopolitik di Timur Tengah terhadap pasokan energi nasional.
Menurut Dedie Rachim, konflik yang terjadi di Timur Tengah berpotensi memengaruhi pasokan bahan bakar minyak (BBM) ke Indonesia, mengingat sebagian besar kebutuhan energi tersebut masih bergantung pada impor.
“Sesuai arahan pemerintah pusat, pelan-pelan kita sampaikan kepada masyarakat bahwa dinamika geopolitik di Timur Tengah berdampak pada pasokan energi untuk Indonesia,” kata Dedie di Balai Kota Bogor usai Patroli Malam Lebaran, Jumat 20 Maret 2026.
Ia menjelaskan, rencana penerapan WFH saat ini masih menunggu petunjuk teknis (juknis) dari pemerintah pusat. Namun, sejumlah sektor mulai diminta bersiap, mulai dari pemerintah daerah, sekolah hingga sektor swasta.
“Sudah diwacanakan bahwa sekolah, pemerintah daerah, hingga sektor swasta sedang menyiapkan skema WFH tersebut,” jelasnya.
Dedie juga mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak panik menyikapi potensi gangguan pasokan BBM. Pemerintah pusat, kata dia, tengah mencari solusi terbaik agar kondisi tetap terkendali.
“Kalau pasokan BBM tersendat, tentu masyarakat harus memahami, tapi tetap tenang, pemerintah sedang mencari solusi agar tidak terjadi gejolak,” katanya.
Di sisi lain, ia memastikan pasokan listrik di Kota Bogor relatif aman, berdasarkan hasil peninjauan ke PLN, kapasitas listrik masih dalam kondisi surplus.
“Serapan listrik di Bogor baru sekitar 60 persen, masih ada cadangan 30 sampai 40 persen, jadi relatif aman,” ungkapnya.
Meski demikian, ia menegaskan sektor transportasi yang bergantung pada BBM tetap perlu menjadi perhatian. Oleh karena itu, masyarakat diimbau mulai melakukan penghematan penggunaan bahan bakar sebagai langkah antisipasi.
Seperti diketahui kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) dapat terjadi akibat konflik di Timur Tengah karena kawasan tersebut merupakan salah satu pusat produksi dan jalur distribusi minyak dunia.
Ketegangan geopolitik berpotensi mengganggu aktivitas produksi di negara penghasil minyak, serta distribusi melalui jalur strategis seperti Selat Hormuz dan ketika pasokan global terganggu, harga minyak mentah cenderung naik dan ketersediaan BBM di negara pengimpor, termasuk Indonesia, bisa ikut terdampak.
Kondisi tersebut membuat distribusi menjadi terbatas dan memicu potensi kelangkaan, terutama jika gangguan berlangsung dalam waktu lama. (uma)
Editor : Eka Rahmawati