RADAR BOGOR – Ribuan umat Islam memadati Kebun Raya Bogor untuk menunaikan Salat Idulfitri sekaligus menyimak khotbah yang disampaikan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria.
Dalam khotbahnya di Kebun Raya Bogor, Kepala BRIN menekankan pentingnya menghadirkan kembali wajah Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin). Hal ini dilakukan di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian dan potensi konflik.
Kepala BRIN dalam khotbah di Kebun Raya Bogor menyoroti, runtuhnya sebuah peradaban kerap diawali dari lunturnya nilai kemanusiaan serta diabaikannya etika universal dalam kehidupan bermasyarakat.
Karena itu, umat Islam dituntut tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga mampu memadukan iman dan takwa (imtaq) dengan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek).
“Islam harus tampil sebagai solusi, menghadirkan keseimbangan dan kedamaian dalam kehidupan global,” ujarnya.
Sebagai jalan tengah, Arif menawarkan paradigma Wasatiyat Islam atau Islam moderat sebagai fondasi dalam membangun masyarakat yang adil, makmur, dan damai.
Dalam kesempatan tersebut, ia memaparkan tujuh pilar utama sebagai landasan rekonstruksi peradaban baru. Pertama, tawazun atau keseimbangan antara kepentingan dunia dan akhirat. Kedua, i’tidal yakni sikap adil, proporsional, dan bertanggung jawab.
Ketiga, tasamuh atau toleransi terhadap perbedaan. Keempat, syura yang menekankan pentingnya musyawarah dalam menyelesaikan persoalan. Kelima, islah atau semangat perbaikan dan pembaruan.
Selanjutnya, qudwah yakni keteladanan dalam perilaku dan kepemimpinan. Terakhir, muwatanah yang menumbuhkan rasa cinta tanah air serta partisipasi aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Menurutnya, ketujuh nilai tersebut harus diinternalisasi baik secara individu maupun kolektif agar mampu melahirkan peradaban yang berkeadaban dan berkelanjutan.
Sementara itu, tokoh pendidikan Bogor, Apendi Arsyad, menilai gagasan yang disampaikan Arif Satria relevan dengan visi Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.
“Umat Islam harus mampu menunjukkan bahwa paradigma Wasatiyat Islam dapat melahirkan ummatan wasatan, yakni masyarakat yang inklusif, harmonis, dan berlandaskan moralitas,” ujarnya.
Ia menambahkan, pesan tersebut juga sejalan dengan amanat Pembukaan UUD 1945 alinea keempat, yakni ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Dengan semangat Idulfitri, momentum ini diharapkan menjadi penguat bagi umat Islam untuk terus berkontribusi dalam membangun bangsa yang beradab serta berperan aktif dalam mewujudkan perdamaian dunia.
Editor : Rani Puspitasari Sinaga