RADAR BOGOR - Menjelang Lebaran Idul Fitri, ketupat menjadi salah satu hidangan yang hampir selalu hadir di meja makan masyarakat Indonesia.
Makanan berbahan dasar beras yang dibungkus anyaman janur ini, seolah menjadi simbol kehangatan dan kebersamaan saat lebaran tiba.
Tak hanya disantap pada hari pertama, ketupat juga kerap dinikmati beberapa hari setelahnya sebagai pendamping berbagai hidangan khas seperti opor ayam, rendang, gulai, hingga semur.
Bagi banyak orang, menyantap ketupat di pagi hari saat lebaran terasa seperti ritual yang menyempurnakan perayaan.
Namun, di balik melimpahnya ketupat yang tersaji, muncul pertanyaan menarik yakni dari mana asal ribuan bahkan jutaan kulit ketupat yang beredar setiap tahunnya?
Jawabannya bisa ditemukan di Kampung Ketupat diantaranya sekitar RT 03/07, Kelurahan Cimahpar, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor.
Wilayah ini telah lama dikenal sebagai sentra pembuatan kulit ketupat terbesar di daerah tersebut.
Sebagian besar warga di kampung ini menggantungkan hidup dari kerajinan menganyam janur menjadi kulit ketupat.
Keahlian ini tidak hanya dimiliki oleh ibu rumah tangga, tetapi juga oleh kaum pria hingga anak-anak.
Hampir setiap rumah terlihat aktivitas serupa, yakni membuat anyaman ketupat.
Meski begitu, tidak semua warga menjual hasil produksinya.
Ada yang hanya membuat untuk disetorkan kepada pengepul atau membantu produksi keluarga.
Tetua Kampung Ketupat, Muryani, mengungkapkan bahwa tradisi ini telah berlangsung sejak puluhan tahun lalu, meski tidak ada catatan pasti kapan dimulai.
“Dulu awalnya dari tradisi sedekah ketupat setiap hari Rebo Wekasan. Lama-lama ada yang mengembangkan menjadi usaha,” ujar Muryani.
Menurutnya, pada awalnya hanya orang tua yang membuat ketupat.
Namun seiring waktu, keterampilan tersebut diwariskan secara turun-temurun hingga menjadi identitas kampung.
Seiring meningkatnya permintaan, kerajinan ini semakin dikenal luas.
Pembeli datang dari berbagai kalangan, mulai dari pedagang sayur, penjual sate Padang, gado-gado, hingga ibu rumah tangga.
Melihat peluang ekonomi yang cukup menjanjikan, banyak warga yang sebelumnya bekerja sebagai petani beralih profesi menjadi perajin kulit ketupat.
Selain fleksibel, pekerjaan ini juga dapat dilakukan di sela waktu luang.
Pada hari biasa, satu ikat kulit ketupat yang berisi 10 buah dijual dengan harga sekitar Rp10.000.
Namun menjelang lebaran, harga bisa melonjak hingga Rp15.000 sampai Rp50.000 per 10 ketupat, tergantung ukuran dan kualitas.
Nah, omzet tiap warga bahkan bisa mencapai Rp1 juta tiap harinya.
Dalam kondisi normal, seorang perajin mampu menghasilkan ratusan kulit ketupat per hari.
Bahkan, yang sudah mahir bisa membuat hingga 500 sampai 700 buah setiap harinya.
Permintaan yang tinggi membuat warga tidak hanya mengandalkan pasokan janur dari wilayah Bogor.
Mereka juga mendatangkan bahan baku dari daerah lain seperti Banten dan Sukabumi untuk menjaga produksi tetap berjalan.
Meski terlihat sederhana, proses pembuatan kulit ketupat membutuhkan ketelitian dan kesabaran tinggi.
Anyaman harus dibuat dengan presisi agar tidak longgar maupun terlalu kencang.
Selain itu, pemilihan janur juga sangat menentukan kualitas.
Janur yang masih muda lebih disukai karena lentur dan tidak mudah patah saat dianyam.
Tak hanya proses pembuatannya, memasak ketupat pun memerlukan teknik khusus.
Beras harus direndam terlebih dahulu, lalu dimasukkan ke dalam anyaman dengan takaran sekitar tiga perempat bagian agar hasilnya sempurna.
Ketupat kemudian direbus dalam air mendidih hingga seluruh bagiannya matang merata.
Jika dimasak dengan benar, ketupat dapat bertahan hingga dua hari tanpa basi. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim