RADAR BOGOR – Upaya penanganan stunting di Kecamatan Bogor Selatan menunjukkan tren positif. Dalam dua tahun terakhir, jumlah kasus stunting terus mengalami penurunan seiring diperkuatnya kolaborasi lintas sektor dan program inovasi pemerintah.
Camat Bogor Selatan, Harry Cahyadi, mengatakan penanganan stunting secara teknis masih berjalan seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun, hasil yang dicapai menunjukkan progres yang cukup signifikan.
“Pada Agustus 2024 terdapat sekitar 225 kasus anak stunting di Kecamatan Bogor Selatan, angka tersebut turun menjadi 211 anak pada Februari 2025, dan kembali berkurang menjadi 203 anak pada Agustus 2025. Untuk data Februari 2026, kami masih menunggu rilis resmi dari dinas terkait. Kami berharap angkanya bisa terus menurun,” ujar Harry, Kamis, 26 Maret 2026.
Menurutnya, penurunan tersebut tidak terlepas dari kolaborasi antara pemerintah kelurahan, pihak swasta, hingga dukungan program pemerintah pusat. Di 16 kelurahan, para lurah menggandeng pengusaha melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) dalam skema Bapak Asuh Anak Stunting.
Salah satu capaian terlihat di Kelurahan Lawang Gintung yang berhasil menekan angka stunting secara signifikan.
“Saat ini hanya tersisa tiga kasus stunting di sana,” tambah Harry.
Selain kolaborasi tersebut, Pemerintah Kota Bogor juga menghadirkan program inovasi BESTI (Bogor Bebas Stunting) pada 2026. Program ini dijalankan melalui kerja sama dengan sejumlah pihak untuk mengintervensi ratusan anak stunting di wilayah Bogor Selatan.
“Sebanyak 203 anak diintervensi melalui bantuan bahan pangan bergizi secara rutin setiap bulan, seperti telur, ayam, sayur-sayuran, dan ikan,” kata Harry.
Program ini juga diperkuat dengan pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pemerintah pusat. Saat ini terdapat 24 titik MBG di wilayah Bogor Selatan yang menyediakan makanan bergizi bagi masyarakat secara berkala.
“Penanganan ini dilakukan bersama-sama, mulai dari inovasi kelurahan, CSR pengusaha, program BESTI dari Pemkot, hingga MBG dari pemerintah pusat,” ucapnya.
Lebih lanjut, Harry menekankan upaya pencegahan menjadi kunci utama dalam menekan angka stunting ke depan. Menurutnya, penanganan tidak hanya berfokus pada anak yang sudah mengalami stunting, tetapi juga harus menyasar potensi munculnya kasus baru.
“Edukasi harus dimulai dari calon pengantin, kemudian berlanjut saat masa kehamilan, melahirkan, menyusui, hingga penerapan pola hidup sehat dalam keluarga,” jelasnya.
Ia menambahkan, peran puskesmas dan kader di tingkat kelurahan sangat penting dalam memberikan edukasi berkelanjutan kepada masyarakat. Intervensi pun menyasar berbagai kelompok, mulai dari balita, batita, ibu hamil, hingga ibu menyusui.
“Dengan edukasi yang konsisten dan intervensi yang tepat sasaran, kami optimistis rantai stunting bisa diputus,” tandasnya.(uma)
Editor : Eka Rahmawati