Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Harga Murah dan Bisa Produksi Massal, BBM Bobibos Asal Bogor Diklaim Bisa Kurangi Ketergantungan Impor

Fikri Rahmat Utama • Senin, 30 Maret 2026 | 18:01 WIB

Komisaris Utama PT Inti Sinergi Formula sekaligus anggota DPR RI, Mulyadi (kanan) di Podcast Bicara Bogor oleh Radar Bogor.
Komisaris Utama PT Inti Sinergi Formula sekaligus anggota DPR RI, Mulyadi (kanan) di Podcast Bicara Bogor oleh Radar Bogor.

RADAR BOGOR – Inovasi BBM alternatif berbasis jerami, Bahan Bakar Original Buatan Indonesia Bos atau BOBIBOS dari Jonggol, Kabupaten Bogor kembali mencuat di tengah isu krisis energi global.

Selain diklaim memiliki kualitas tinggi, bahan bakar ini juga disebut mampu diproduksi massal dengan biaya murah sehingga berpotensi mengurangi ketergantungan impor energi nasional.

Komisaris Utama PT Inti Sinergi Formula, Mulyadi, menyebut Indonesia saat ini masih menghadapi defisit energi yang cukup besar. Kebutuhan BBM nasional mencapai sekitar 1,5 juta barel per hari, sementara produksi domestik baru berada di kisaran 580 ribu barel.

“Karena itu kita tidak bisa hanya bicara ketahanan energi, tapi harus kemandirian energi. Kalau kita mandiri, kita tidak akan terlalu terpengaruh dinamika global,” ujar Mulyadi dalam Podcast Bicara Bogor yang digelar oleh Radar Bogor, Senin 30 Maret 2026.

Menurutnya, BOBIBOS hadir sebagai salah satu alternatif energi berbasis nabati yang memanfaatkan limbah jerami. Dari hasil uji laboratorium Lemigas, bahan bakar ini memiliki angka oktan (RON) mencapai 98,1, setara bahkan di atas BBM jenis premium tinggi.

Tak hanya dari sisi kualitas, biaya produksi BOBIBOS juga diklaim jauh lebih rendah. “Biaya produksinya tidak sampai Rp5.000 per liter,” kata Mulyadi.

Dalam skala produksi, potensi bahan baku dinilai sangat besar, anggota DPR RI ini menjelaskan, satu hektare lahan sawah yang menghasilkan sekitar 6 hingga 7 ton jerami dapat diolah menjadi sedikitnya 2.000 liter bahan bakar.

Dengan luas sawah di Indonesia yang mencapai sekitar 11,35 juta hektare dan rata-rata dua kali panen per tahun, potensi produksi BOBIBOS disebut mampu mencapai 600 ribu lebih barel, yang dapat memangkas signifikan angka impor BBM.

“Kalau ini dimaksimalkan, kita bisa mengurangi lebih dari setengah impor energi,” jelasnya.

BOBIBOS sendiri dikembangkan dalam dua varian, yakni bensin dan diesel, yang disebut sebagai konsep “energi merah putih”. Bahan bakar ini juga diklaim dapat langsung digunakan pada berbagai mesin, mulai dari kendaraan, genset hingga alat pertanian tanpa perlu modifikasi.

Meski memiliki potensi besar, pengembangan BOBIBOS di dalam negeri masih menghadapi sejumlah kendala, terutama dari sisi regulasi. Saat ini, kebijakan energi baru terbarukan di Indonesia masih berfokus pada bahan baku seperti sawit, tebu, dan aren, sehingga jerami belum masuk dalam skema yang diatur.

“Untuk produksi massal, kita butuh dukungan negara, mulai dari regulasi, investasi, hingga proteksi,” tegas Mulyadi.

Ia menegaskan, kehadiran BOBIBOS bukan untuk menggantikan bahan bakar fosil sepenuhnya, melainkan sebagai alternatif yang dapat menjadi pilihan masyarakat di tengah kebutuhan energi yang terus meningkat.

“Ini adalah solusi dari Indonesia untuk Indonesia, kalau dikelola dengan baik, bukan tidak mungkin bisa menjadi solusi energi dunia,” pungkasnya.(uma)

Editor : Eka Rahmawati
#bogor #bbm #Bobibos