RADAR BOGOR – Inovasi bahan bakar alternatif berbasis jerami, Bahan Bakar Original Buatan Indonesia Bos (BOBIBOS), kembali mencuat setelah sempat tenggelam sejak diperkenalkan pada 2025 lalu. Di tengah isu krisis energi global, produk ini justru dilirik serius oleh pemerintah Timor Leste.
Komisaris Utama PT Inti Sinergi Formula sekaligus anggota DPR RI, Mulyadi, mengungkapkan minat dari luar negeri muncul saat respons di dalam negeri belum optimal.
“Justru di tengah krisis geopolitik sekarang, kami kembali disorot. Bahkan Timor Leste sangat agresif untuk segera meluncurkan ini,” ujarnya dalam Podcast Bicara Bogor yang digelar Radar Bogor, Senin, 30 Maret 2026.
Menurutnya, pihak Timor Leste bahkan memberikan dukungan penuh, mulai dari penyambutan resmi hingga fasilitasi rencana pengembangan. Peluncuran BOBIBOS di negara tersebut pun ditargetkan dalam waktu dekat.
"Kami perlu waktu untuk launching karena membutuhkan jerami dalam jumlah besar sedangkan itu perlu waktu untuk dikumpulkan," jelasnya.
Padahal, kata Mulyadi, sejak awal pengembangan, pihaknya berharap inovasi ini bisa lebih dulu dimanfaatkan di dalam negeri sebagai solusi kemandirian energi.
Ia menjelaskan, Indonesia saat ini masih menghadapi defisit energi yang cukup besar. Kebutuhan BBM nasional mencapai sekitar 1,5 juta barel per hari, sementara produksi domestik baru sekitar 580 ribu barel.
“Karena itu kita tidak bisa hanya bicara ketahanan energi, tapi harus kemandirian. Kalau kita mandiri, kita tidak akan terlalu terpengaruh dinamika global,” tegasnya.
BOBIBOS sendiri merupakan bahan bakar nabati berbahan dasar jerami yang diklaim memiliki kualitas tinggi. Berdasarkan hasil uji Lemigas, bahan bakar ini memiliki angka oktan (RON) mencapai 98,1.
Selain itu, biaya produksinya disebut relatif murah, yakni di bawah Rp5.000 per liter. Bahan bakar ini juga diklaim dapat digunakan langsung pada berbagai mesin, mulai dari kendaraan, genset, hingga alat pertanian tanpa perlu modifikasi.
Dalam proses produksinya, satu hektare lahan sawah dengan hasil jerami sekitar 6–7 ton dapat menghasilkan hingga 2.000 liter bahan bakar.
Mulyadi menambahkan, BOBIBOS dikembangkan dalam dua varian, yakni untuk bensin dan diesel, yang disebut sebagai konsep “energi merah putih”.
Meski demikian, pengembangan lebih lanjut di dalam negeri masih menghadapi sejumlah kendala, terutama dari sisi regulasi. Saat ini, kebijakan energi baru terbarukan di Indonesia masih berfokus pada bahan baku seperti sawit, tebu, dan aren, sehingga jerami belum masuk dalam kategori yang diatur.
“Untuk uji lanjutan seperti emisi dan ketahanan, kami masih terkendala regulasi. Padahal itu penting untuk memastikan keberlanjutan,” jelasnya.
Ia menegaskan, kehadiran BOBIBOS bukan untuk menggantikan sepenuhnya bahan bakar fosil, melainkan sebagai alternatif energi yang bisa dipilih masyarakat.
Ke depan, pihaknya berharap pemerintah dapat memberikan dukungan melalui regulasi, investasi, serta perlindungan agar inovasi ini bisa berkembang dan dimanfaatkan secara luas di dalam negeri.
“Ini bukan sekadar bisnis, tapi upaya menghadirkan solusi energi dari Indonesia untuk Indonesia, bahkan untuk dunia,” pungkasnya.(uma)
Editor : Eka Rahmawati